Sri Lienau's Third page... for page (2) click here!
TOLERANSI DAN APRESIASI 17 Desember 2002 Saya lahir pada waktu ayah saya memimpin pasukan gerilya melawan
Belanda di desa Kaligesing, Purworejo. Beliau dulu adalah seorang
guru sekolah rakyat di Kebumen sebelum memenuhi panggilan untuk
mempertahankan kemerdekaan tanah air. Saya tidak merasa kehilangan atau haus akan informasi serta
hiburan musik dan drama atau film dari negara-negara lain karena
saya tidak menyadari eksistensinya. Lagu-lagu patriotik serta
lagu-lagu cinta tanah air Ternyata banyak tempat-tempat yang juga sangat indah di negeri-negeri lain. Pergaulan saya dengan para sahabat dari suku bangsa, bangsa dan agama lain membuka mata saya bahwa pada dasarnya semua manusia sama, menginginkan kedamaian, kebahagiaan dan persahabatan, dan semua ajaran agama pada intinya sama, yaitu mengajarkan kasih dan kedamaian. Saya percaya bahwa apapun agama kita, sesungguhya hanya ada satu Tuhan Yang Maha Esa, pencipta langit dan bumi beserta segenap isinya, yang semuanya dikasihi oleh Tuhan. Lalu kenapa ada perang? Kenapa ada orang-orang yang tidak mau membuka diri melihat
perbedaan-perbedaan yang sesungguhnya justru menimbulkan keindahan?
Saya jadi ingat pada tulisan yang mengatakan bahwa satu hal yang
sangat menyedihkan adalah adanya anggapan dari kelompok-kelompok
orang yang berkeyakinan bahwa hanya dirinyalah yang benar sepenuhnya,
sedangkan pihak atau orang lain adalah salah sepenuhnya. Mereka
melihat dunia dengan warna hitam atau putih, sedangkan sesungguhnya
di dunia ini ada warna abu-abu serta warna-warna lainnya. Tidak ada
suatu kebenaran yang absolut. |
Saya bersyukur anak-anak saya dididik di Jakarta
International School yang menekankan penghormatan dan toleransi
terhadap orang lain yang berlatar belakang berbagai agama dan
kebangsaan. Saya merasakan ketulusan keluarga dan teman-teman saya
pada waktu memberikan ucapan selamat kepada orang-orang lain yang
merayakan hari besar agama yang lain dari yang dianutnya. Annette
yang sewaktu di Wellesley College kadang-kadang mengikuti pertemuan
kelompok Hindu memberikan hadiah |
Baru-baru ini saya merangkum hasil
questionnnaire dari para sponsor yang
|
|
YOU ARE ALLOWED TO MAKE MISTAKES Kaki Gunung Salak, 27 April 2003 Ibu Anna McArthur adalah seorang anggota pengurus Srikandi yang masih muda, cantik, ramah, cerdas, dinamis dan memiliki senseof humor yang tinggi, dan yang lebih penting, beliau sangat dikagumi oleh segenap pengurus Srikandi karena kemampuannya di bidang Information Technology. Karenanya beliau diangkat sebagai "Menteri Penerangan" Srikandi sekaligus webmaster dan moderator milis Berita Srikandi as well as moderator milis Aliansi Pelangi Antar Bangsa yang didirikan atas saran Ibu Julie Stirling sebagai suatu proses advokasi dalam usaha mendapatkan perubahan hukum yang selama ini menyulitkan perkawinan campuran, dan, biasa deh, Ibu Julie Stirling langsung didaulat, diminta untuk memimpin aliansi ini. Menjawab pertanyaan saya tentang bagaimana bu Anna mempelajari IT kok bisa sampai secanggih itu, beliau menjawab bahwa beliau belajar sendiri sepenuhnya, tidak pernah ikut kursus computer, tidak pernah pakai buku panduan karena dalam buku panduan hal-hal yang sesungguhnya sederhana menjadi nampak njelimet. Dalam belajar sendiri bu Anna banyak dan sering sekali melakukan kesalahan; tapi ya begitulah, setelah melalui trial and error and trial and error berkali-kali, hasilnya bisa dilihat antara lain di http://www.srikandi.org/Srikandi.htm Sekalian adpertensi nih ye? Kali-kali aje di antara pembace nantinya ade yang dapat jodoh orang asing kayak si ibu ini…… he he he……… eh, siape tahu?????????? Wah, jadi kangen same si Babe nih. Anyway, jawaban bu Anna ini mengingatkan saya pada argumentasi dengan ayah saya yang saya lakukan dengan sopan. Ayah saya tidak tega dan tidak bisa membiarkan putranya "jatuh" dan "sakit" apalagi sampai "masuk jurang" dan karenanya harus dicegah jangan sampai hal itu terjadi. Saya berpendapat sebaliknya karena saya percaya bahwa anak yang "jatuh" akan merasa sakit dan akan belajar dari sebab-sebab kejatuhannya, sehingga tidak akan mengulangi kekeliruannya dan akan bangkit lagi, untuk kemudian jatuh lagi dan belajar lagi supaya kuat dan mandiri. Saya tidak selalu bersama mereka untuk melindungi mereka, dan pada saatnya mereka harus pergi meninggalkan saya menghadapi hidup yang penuh tantangan ini sendiri. | Saya ingat waktu Annette duduk di kelas 5 Elementary School. Dia sangat ingin mempunyai sepatu boot yang sangat populer di kalangan murid-murid Jakarta International School waktu itu, Doc Martin shoes. Harganya sangat mahal sekali, berkali lipat dari harga yang biasa saya keluarkan untuk membeli sepasang sepatu. Saya bilang sama Annette bahwa saya hanya bersedia membayar Rp 30,000 untuk sepatu dia karena itulah budget saya. Kalau dia ingin mempunyai Doc Martin shoes, dia harus membayar kekurangannya dengan tabungan dia sendiri. Karena keinginannya yang begitu besar dia menabung uang saku yang diberikan setiap minggu selama berbulan-bulan, tidak membeli apa-apa sama sekali sampai cukup terkumpul. Nah, kemudian ributlah pak Denny dengan saya karena argumentasi yang persis sama dengan ayah saya. Pak Denny minta agar saya melarang Annette membeli sepatu impiannya, harganya terlalu mahal, it’s a big mistake, she will regret it, it’s better to safe the money for something else, sementara saya bersikeras untuk membiarkan Annette melakukan kesalahan karena hal itu akan menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk dia. Biarkan Annette merasa bahwa uang itu adalah betul-betul uangnya, dan biarkan dia merasa bahwa dialah yang sepenuhnya menguasai uang milik dia. Karena saya keras pada pendirian saya, pak Denny tidak bisa melarang ketika saya bersama Odette dan Denette mengantar Annette ke Pondok Indah Mall membeli Dov Martin shoes. Kami bertiga tersenyum melihat Annette melakukan "kebodohan" itu, sesuatu yang sangat disadari oleh Annette. Annette bilang: "I know, you think I am silly". Sekitar 6 bulan kemudian, sepatu tersebut terlalu kecil untuk Annette sehingga Annette memberikannya kepada Denette sebagai hadiah ulang tahun pada waktu kami di Puncak. Kami semua, termasuk Annette tersenyum penuh arti. Beberapa tahun kemuadian Annette mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada saya karena saya telah membiarkan dia melakukan suatu kesalahan. Jawaban saya adalah: "You are allowed to make mistakes, Annette". Itu pulalah yang sering saya sampaikan kepada anak-anak saya. Betul kok, it’s not the end of the world. Annette sendiri sekarang adalah seorang wanita muda yang menggunakan uangnya dengan bijaksana tanpa mengurangi kedermawanannya dalam memberikan hadiah-hadiah untuk orang-orang yang dicintainya.*** |
| DEBAT DAN PEMILIHAN
PRESIDEN AMERIKA 2004 1 – 11 November 2004 "It's one thing to be certain, but you can be certain and be wrong....... And certainty sometimes can get you in trouble". - John Kerry"The President made a mistake invading Iraq". - John Kerry"You cannot lead if you send mixed messages. Mixed messages send the wrong signals to our troops". - George W. Bush."When Iraq is free, America will be more secure". - George W. Bush.Kutipan diatas disampaikan oleh Kerry dan Bush dalam salah satu debat presiden menanggapi pertanyaan tentang Perang Irak. Dalam hal ini Kerry mengritik Bush yang keras kepala dan Bush membalas kritikan Kerry dengan tuduhan bahwa kritikan Kerry terhadap Perang Irak sama saja artinya dengan tidak memberikan dukungan pada tentara-tentara Amerika di Irak yang sedang berperang mempertaruhkan nyawa mereka demi tercapainya demokrasi di Irak sekaligus membasmi terorisme yang membahayakan keamanan Amerika, terlepas dari pernyataan Kerry bahwa dia memberikan dukungan, ucapan terima kasih dan respek pada tentara-tentara Amerika yang dikirim ke Irak untuk menjalankan tugas negara. Kerry juga mengatakan bahwa Bush "just doesn't understand the problems facing America" sedangkan Bush mengatakan bahwa dia adalah "orang terbaik untuk menjaga bangsa ini aman dari kaum teroris". Debat calon presiden diadakan selama tiga kali, sedang debat calon wakil presiden (antara Dick Cheney yang sekarang menjadi wakil presiden dan John Edwards, yang sebagaimana Kerry juga seorang senator dan lawyer) diadakan satu kali, masing-masing selama 90 menit, di tempat-tempat yang berbeda. Persiapan debat itu sendiri diatur oleh pembantu-pembantu Kerry dan Bush, dengan perjanjian dan syarat-syarat yang sangat ketat, termasuk tempat duduk, jarak satu sama lain, jarak dari kamera TV, dsb. Gerakan-gerakan yang bisa mereka lakukan sangat terbatas, misalnya tidak boleh bicara sambil jalan. Mereka tidak boleh berbicara langsung terhadap satu sama lain. Jawaban hanya ditujukan pada moderator, dan pada satu acara debat dimana yang hadir boleh mengajukan pertanyaan, hanya pada penanya. Untuk setiap pertanyaan, setiap calon mempunyai waktu untuk menjawab dan menanggapi jawaban lawannya selama 60 detik, plus 30 detik kalau dirasa masih perlu, itupun hanya dengan izin moderator. Kalau seorang calon mendapat tambahan waktu 30 detik, calon lainnya juga diberi tambahan waktu 30 detik, walaupun tidak diminta. Yang menjadi moderator adalah para penyiar senior dari stasiun-statiun televisi terkemuka yang mempunyai reputasi baik karena obyektivitas berita-berita yang disampaikan. Mereka dipilih oleh kedua belah pihak yang bertentangan, berarti bahwa mereka adalah orang yang mempunyai kredibilitas dan mendapat kepercayaan mewakili publik, baik yang mendukung, menentang ataupun meragukan kemampuan baik Kerry maupun Bush. Kecuali pada satu acara dimana publik boleh mengajukan pertanyaan, mereka menyiapkan pertanyaan-pertanyaan sendiri, dan hanya merekalah yang tahu pertanyaan-pertanyaan itu sampai pertanyaan itu disampaikan waktu acara debat. Mereka telah disumpah untuk menjaga rahasia tsb. Tidak ada complaint terhadap para moderator karena mereka memang menjalankan tugas mereka dengan sangat baik dan tegas (tidak pakai acara senyum segala, kecuali waktu mulai dan setelah selesai). Ketika presiden minta waktu tambahan sedikit, jawabannya tetap tidak, "Sorry Mr. President, that's what you got". |
Pertanyaan-pertanyaan mereka betul-betul tough dan menantang serta mencerminkan keingin-tahuan rakyat tentang calon presiden mereka. Kita tidak bisa mengetahui, apakah para moderator itu memilih Bush atau Kerry. Sesungguhnya sasaran debat ini terutama ditujukan untuk mempengaruhi orang-orang yang belum menentukan pilihan, atau yang tidak bermaksud memilih, karena secara tradisionil, di negara-negara bagian tertentu mereka masing-masing sudah mempunyai pendukung yang kuat. Tapi orang-orang yang waktu itu belum menentukan pilihan inilah yang bisa menentukan hasil terakhir pemilihan presiden, seperti yang telah terbukti. Acara debat calon presiden pertama difokuskan pada masalah-masalah luar negeri, suatu hal yang sesungguhnya menguntungkan Partai Republik dan karenanya Partai Demokrat sesungguhnya tidak puas. Soalnya biasanya orang-orang hanya tertarik untuk melihat debat pertama, acara debat selanjutnya mereka tidak peduli. Acara debat kedua tentang masalah-masalah dalam negeri. Kalau bicara tentang masalah dalam negeri, kita bicara tentang ekonomi dan kesejahteraan sosial yang berantakan. Sedang debat ketiga tentang apa saja yang ingin ditanyakan oleh audience. Debat antara Cheney dan Edwards meliputi semua masalah. Yang hanya bisa mengajukan pertanyaan dalam debat calon presiden pertama dan kedua serta debat calon presiden hanyalah moderator. Kamu ingat kan, training tentang debat dan public speaking? Nah, bener saja, body language mempunyai peranan yang sangat penting. Yang jelas dalam debat pertama, Bush mendapat penilaian di bawah Kerry. Bush kelihatan marah, kadang-kadang capek dan bosan, berdirinya nggak bener, entah berapa kali dia mengedipkan mata yang menurut seorang proffessor yang menghitung kedipan matanya menunjukkan bahwa dia tegang, kadang-kadang mengulang-ulang kata-kata yang tidak perlu sepertinya hanya untuk mengisi waktu, sementara Kerry tetap tenang pada waktu Bush menyerang dia, tersenyum sambil mencatat point-point yang perlu untuk menyiapkan diri memberikan counter speech . Cara Bush berdebat selanjutnya jauh lebih baik dari pada yang pertama walaupun sebagaimana sebelumnya, dia kadang-kadang tidak sabar menunggu gilirannya, mau bicara sebelum dia dipersilahkan, atau mau motong pembicaraan Kerry. Nampaknya, ini menurut wartawan dari sekian penerbitan lho, Bush itu tidak terbiasa mendapat pertanyaan atau serangan yang tajam menentang kebijaksanaan dia, baik dari staffnya maupun sewaktu kampanye. Soalnya yang boleh mengikuti kampanyenya terbatas hanya pada orang-orang Partai Republik dan/atau yang sudah memastikan diri memilih Bush. Hal ini untuk menjaga image supaya dimata pemirsa TV, kampanye Bush dihadiri dengan antusias oleh pendukung-pendukungnya. Kalau kamu tidak memilih Bush, jangan harap bisa hadir. ID kamu diperiksa. Hal ini sama sekali lain dengan kampanye-kampanye yang diselenggarakan oleh Partai Demokrat yang mengizinkan siapapun untuk datang. Setelah menerima kritikan untuk perbaikan, Bush tampil dengan lebih baik pada debat-debat selanjutnya. Baik Demokrat maupun Republik menyiapkan calon mereka masing-masing dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat menantang yang diajukan oleh para ahli mereka masing-masing yang mungkin akan keluar dalam acara debat.
|
Ini adalah contoh yang baik untuk kamu, biasakan berdebat di antara kamu sendiri walaupun sudah diyakini kamu mempunyai pandangan yang sama supaya kamu siap menghadapi debat dari yang berbeda pandangan dengan kamu. Makanya kamu perlu sekali mengetahui alasan-alasan yang bertentangan dengan kamu supaya kamu dapat menyiapkan diri dengan baik. Saya sangat terkesan oleh cara-cara para calon menyampaikan pesan-pesan yang menunjukkan keyakinan mereka yang kuat atas apa yang mereka perjuangkan. Dari pesan-pesan yang disampaikan kamu bisa melihat perbedaan pendapat yang tajam antara kedua calon yang berbeda. Mereka menggunakan kata-kata seperti di bawah ini:
Catatan lain adalah sering kali pernyataan yang disampaikan dimulai dengan mengemukakan kehidupan orang biasa yang baru ditemui. Hal itu biasanya oleh Kerry dijadikan contoh kasus untuk menunjukkan masalah nasional yang sebenarnya, yang nota bene menganggap ini sebagai kegagalan Bush, sedang bagi Bush dipakai bahan untuk mempertahankan kebijaksanaanya. Contoh yang dikemukakan Kerry antara lain adalah obrolannya dengan 5 orang wanita yang kehilangan pekerjaan, suami-suami mereka juga kehilangan pekerjaan, mereka tidak bisa membayar rekening-rekening mereka, tidak punya asuransi kesehatan, padahal anak-anak masih sekolah. Keadaan ini menunjukkan betapa beratnya kehidupan rakyat Amerika yang disebabkan oleh kegagalan Bush dalam kebijaksanaan dalam negeri, dsb. dsb. Tentang para pemilih, kebanyakan mahasiswa-mahasiswa dan para akademisi lain, para guru, orang-orang yang bergerak di NGO, mantan peace corps volunteer memilih calon Demokrat. Tapi juga banyak lho pendukung Partai Republik yang baik-baik. Umumnya mereka memilih Bush karena keamanan nasional dan alasan moral sedang yang memilih Kerry disebabkan karena masalah pendidikan dan kesejahteraan sosial yang parah di dalam negeri serta alasan menentang perang Irak. Dalam politik kami bertentangan, tapi dalam persaudaraan kami tetap akrab. Bicara tentang alasan mengapa mereka memilih calon yang mereka inginkan, ada seseorang yang memilih Kerry bukan karena senang sama Kerry, tapi karena benci sama Bush sehingga siapapun yang jadi presiden, OK, asal bukan Bush. Kamu sudah tahu hasilnya. Bush menang. Saya sendiri sependapat dengan Fadliah bahwa demokrasi adalah suara terbanyak tapi belum tentu suara yang terbaik. Dengan demikian saya tidak sependapat pernyataan bahwa pilihan rakyat (mayoritas) selalu merupakan pilihan yang terbaik. Tidak usah jauh-jauh, lihat saja pengalaman negeri kita yang tercinta.***
|
|
THE UNIVERSAL SOLDIER
11 November 2004 He is five-foot-two, and he's six feet four He fights with missiles and with spears He's all of thirty-one, and he's only seventeen He's been a soldier for a thousand years He's Catholic, a Hindu, an atheism, a Jane, a Budhist, and a Jew And he knows he shouldn't kill Kill you for me, my friend, and me for you And he's fighting for Canada And he's fighting for France And he's fighting for the USA And he's fighting for the Russians And he's fighting for Japan And he thinks we'll put an end to war this way And he's fighting for democracy And he's fighting for the Reds He says it’s for the peace of all He's the one who must decide who's to live and who's to die And he never sees the writing on the wall But without him how would Hitler have condemned them in Dachau Without him Caesar would have stood long He's the one who gives his body as weapon of the war And without him all this killing can't go on
He's the universal soldier, and he really is to blame His orders come from faraway no more They come from him and you and me And brothers, can't you see This is not the way we put an end to war?
********
Lagu diatas dinyanyikan oleh Joan Baez, seorang penyanyi Amerika yang menyerukan perdamaian. Suaranya keras terdengar sebagai seorang aktivis anti perang pada masa perang Vietnam. Dari kata-kata yang ada dalam lagu tsb. kita bisa melihat bahwa dimana-mana, tentara itu pada umumnya sama saja. Mereka sesungguhnya adalah orang-orang biasa seperti kita, mempunyai keluarga dan teman-teman yang mencintai mereka, yang bertempur untuk pihak-pihak dimana mereka kebetulan berada, baik untuk hal-hal yang mereka percaya sebagai suatu kebenaran, ataupun karena mereka menjalankan tugas negara, mereka lakukan apa yang harus mereka lakukan terlepas dari pandangan mereka pribadi. Sesungguhnya mereka juga menginginkan perdamaian, dan tidak ingin membunuh atau terbunuh. Seperti yang dinyanyikan oleh Joan Baez, mereka tahu bahwa membunuh itu salah, tapi ya itu tadi, mereka merasa harus melakukan apa yang mereka harus lakukan. Saya jadi ingat filem yang pernah saya tonton, yaitu tentang perang saudara Amerika antara utara dan selatan (tentang masalah perbudakan dimana pihak utara menginginkan dihapusnya perbudakan dan pihak selatan yang mengandalkan penghasilan dari perkebunan ingin mempertahankan perbudakan) yang dimenangkan oleh pihak utara. |
Ada suatu adegan dimana 2 orang tentara yang sedang berjaga dari pihak yang berlawanan bertemu, yang satu memberikan rokok kepada yang lainnya, bicara sedikit, dan berpisah lagi untuk melanjutkan perang. Ada juga kisah nyata dari Perang Dunia ke 2 di Belgia, dimana waktu Natal seregu tentara Amerika mendengar lagu-lagu Natal yang dinyanyikan oleh tentara-tentara Jerman. Tentara-tentara Amerika ini mendekati tentara-tentara Jerman, mereka tukar menukar hadiah Natal, tapi setelah itu mereka bertempur lagi. Saya jadi ingat waktu saya masih klas 4 atau 5 SR dulu ayah saya ditugaskan ke Sumatera Barat untuk menumpas gerakan PRRI/Permesta. PRRI dilihat sebagai suatu pemberontak yang harus dibasmi karena mau melepaskan diri dari RI dan membentuk negara tersendiri. Baru sesudah menjadi mahasiswa jurusan Sejarah FSUI mata saya terbuka, melihat isu yang sama dari kaca mata PRRI karena ada sahabat saya yang sayang sudah almarhum, dulu waktu masih sekolah menjadi anggota PRRI melawan TNI dan menyampaikan alasan-alasan yang masuk akal dan bisa dimengerti mengapa mereka sampai mengangkat senjata melawan pemerintah pusat. Mereka beranggapan, atau diberitahu bahwa pemerintah pusat dikuasai oleh komunis, disamping isu tidak adanya pemerataan kemakmuran antara Jawa dan luar Jawa. Kedua belah pihak bertempur untuk alasan-alasan yang bisa dimengerti dan dapat diterima. Demikianlah memang peperangan yang menyedihkan, yang telah berlangsung selama manusia hidup dibumi, memakan korban anak-anak dan orang-orang yang tak berdosa, serta anak-anak muda yang baik-baik dan idealis, dari segala pihak. Mungkin karena saya adalah anak tentara, saya merasa tertarik untuk mengamati kehidupan tentara sejauh saya bisa. Saya ingat betapa bangga saya dulu menjadi anak seorang tentara (sekarang masih bangga kok), yang berjuang untuk negara dan tanah air. Saya merasa bahwa kecintaan saya pada tanah air tidak terlepas dari bagaimana saya dibesarkan oleh ayah saya dulu. Pernah pada suatu hari di Jakarta, waktu saya membawa mobil, saya melihat seorang Letnan Kolonel juga membawa mobil militer yang sudah tua. Saya pikir, kehidupan ini tidak adil. Kalau terjadi perang, dialah yang maju menghadapi musuh, dengan resiko nyawa untuk mempertahankan tanah air, sedangkan saya akan berlindung di belakang garis pertempuran. Sementara itu penghasilan yang dia terima jauh lebih sedikit dari pada penghasilan yang saya terima. Karena kehidupan saya sesudah dewasa berada di luar lingkungan militer, saya hanya bisa melihat "dari jauh". Waktu di Jakarta saya masih bisa sedikit melihat kehidupan pensiunan militer, yaitu teman-teman ayah saya yang dulu berjuang dalam perang gerilya mempertahankan kemerdekaan kita, yang pada umumnya sangat menyedihkan. Karena saya di Amerika, apalagi Amerika dalam keadaan perang, tentu saja saya ingin mengetahui siapa saja to yang jadi tentara? Kami sedih setiap kali melihat penayangan TV yang memperlihatkan anak-anak muda yang gugur dalam perang di Irak. Kebanyakan umur mereka sekitar 20 sampai 30an tahun, ada yang malah baru 19 tahun, tentu ada juga yang di atas 30 tahun. Saya melihat banyak yang tertarik untuk menjadi tentara karena diberinya kesempatan belajar di perguruan tinggi. |
Di Amerika ada sebuah program yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa-mahasiswa untuk menjadi tentara, ataupun menjadi tentara dulu dengan keuntungan mendapat bea siswa untuk menjadi mahasiswa. Disamping keuntungan ini, mereka juga mendapat leadership training (disamping training kemiliteran). Kalau tidak salah mereka adalah tentara cadangan, dengan status paruh waktu, tapi kalau diperlukan misalnya bertempur di Irak, mereka harus pergi. Daya tarik lainnya adalah kesempatan untuk bepergian ke tempat-tempat lain, membantu bangsa-bangsa lain yang mengalami penderitaan berat, dan kesempatan untuk berjuang demi tegaknya demokrasi dan keadilan. Setelah lulus dari perguruan tinggi, mereka bekerja di tempat-tempat biasa sebagai sipil, tapi sampai kontraknya habis, pada waktu-waktu tertentu mereka harus memenuhi kewajiban mengikuti latihan militer. Sekitar sebulan yang lalu pak Denny dan saya pergi ke suatu fall festival (seperti bazaar). Disitu ada sebuah meja (vendor) yang dijaga oleh seorang sersan muda untuk merekrut calon-calon tentara. Diatas meja disediakan macam-macam brosur yang diterbitkan oleh Angkatan Darat Amerika untuk menarik minat. Mungkin dia kaget sekali melihat saya minta brosur-brosur itu. Dia pikir untuk apa? padahal waktu itu saya ingat kamu. Saya pikir, ini akan menjadi bahan yang cukup menarik untuk saya ceritakan pada kamu. Baru-baru ini saya membaca sebuah arikel di Washington Post yang membuat saya trenyuh, dan bersyukur sekali anak-anak saya tidak jadi tentara sebab kalau sampai mereka jadi tentara dan ikut perang dan sekaligus menulis paper, hati saya akan berdarah teriris-iris. Bayangkan saja, banyak tentara-tentara yang di Irak itu, disamping menjalankan tugas perang juga masih menjalankan tugas bikin paper yang dikirimkan ke proffessor mereka via email. Penulisan paper dilakukan disela-sela dentuman tembakan atau bom. Begitu beratnya perjuangan untuk mencapai pendidikan tinggi, seperti yang kamu lakukan, cuma yang ini lingkungannya berbeda. Pernah saya ngobrol dengan keponakan saya, John, yang menjadi tentara untuk mendapatkan bea siswa. Dia adalah seorang laki-laki muda yang sangat baik, sangat ramah, sangat sensitive terhadap orang lain, dan selalu bersedia membantu siapapun. Buat keluarga besar kami, he is a real sweet heart. Saya bilang, kenapa to kamu kok mau kalau dikirim ke Irak, padahal disana kan ditolak karena tentara Amerika dilihat sebagai tentara pendudukan. Dia bilang bahwa dia bersedia pergi untuk memperjuangkan demokrasi dan keadilan bagi rakyat Irak, dan bahwa yang menolak itu berapa banyak to, kan kebanyakan tidak. Terus saya bilang, tapi nyatanya kamu mendapat perlawanan keras, kamu mengorbankan nyawa kamu, padahal itu kan buat bangsa lain, kalau di Amerika untuk mempertahankan Amerika dari serangan negara lain, lha itu wajarlah. Dia menjawab tidak apa-apa kalaupun dia mesti kehilangan nyawa. "Demi demokrasi dan keadilan, it's worth it". Saya hanya bisa mengatakan bahwa dari dulu saya menentang perang karena saya tidak ingin anak-anak dan orang-orang yang tidak bersalah terbunuh dan suatu negara menjadi berantakan; perasaan itu sekarang bertambah kuat karena saya tidak ingin dia dan orang-orang seperti dia terbunuh.
|
|
SAMPAI AKHIR HAYAT – SEMOGA
21 Januari 2005 Sebentar lagi Diah Kartika dan Ali Ahmudi akan menikah. Kita semua mengucapkan selamat, ikut bahagia, apalagi mereka bertemu karena program bea siswa kita ini. Semoga perkawinan mereka kokoh dan kompak selalu bahagia bersama sampai akhir hayat. Saya baru saja membuka-buka email-email saya yang terdahulu untuk kamu di Goodwill. Kebetulan menemukan tulisan yang sangat cocok, bukan hanya buat Ika dan Ali, tapi juga untuk lainnya, walaupun saat ini belum punya rencana untuk menikah. Beberapa bulan sebelum menikah, saya bertanya pada tunangan saya, "what do you think about our marriage?". Jawaban mengejutkan yang membuat saya begitu bahagia adalah "I will be a poor husband with many responsibilities". Saya tertawa karena jawabannya ternyata sangat lain dengan yang ada dalam bayangan saya, bahwa perkawinan akan selalu indah, dan bahwa dia akan selalu bersama saya dimana saja, kapan saja, seperti Coca Cola..... Kemudian menikahlah kami pada tahun 1974, mengarungi samudra kehidupan yang kadang indah dan tenang dibuai angin segar, tapi kadang juga diterjang badai yang sangat ganas. Karena kami berpegangan pada Tuhan dan karena kami selalu bersama dalam suka dan duka inilah, kami merasa kuat menghadapi tantangan hidup. Menengok masa lalu, menatap masa depan, saya merasakan kehidupan ini seperti air yang mengalir. Kadang-kadang kita tidak tahu akan kemana kita berakhir karena tempat kita berlabuh tidak selalu seperti yang kita rencanakan sebelumnya. Ada kekuatan yang jauh lebih besar dari kita, Tuhan, yang kehendaknya tidak bisa dilawan oleh siapapun, dan yang berkata: "Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah sebagian dari rencanaKu yang besar, yang beredar sepanjang masa". Yang jelas, banyak hal yang telah saya alami sangatlah jauh dari yang saya perkirakan pada waktu masih kuliah dulu, dan walaupun banyak tantangan yang harus kita lalui, Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita. Dulu saya sering bertanya, apakah rencana Tuhan untuk saya? Jawaban yang saya terima dari seorang paman adalah:"Tuhan tidak memberikan jawaban seperti waktu kita bertanya pada sesama manusia dimana kita langsung dijawab. Tuhan akan datang dengan sendirinya, setelah melalui suatu kurun waktu". Banyak orang-orang muda yang bertanya kepada saya, apa sih resepnya kok perkawinan kami bisa bertahan sekian lama? Saya jadi ingat kekhawatiran orang tua saya dulu. Lha wong orang yang kawin lain suku saja banyak yang berantakan, lha ini lain bangsa, apa ya nggak bakalan lebih parah? Sesuai dengan keyakinan saya dulu, nyatanya enggak tuh? Menurut pendapat saya, bahagia atau tidaknya suatu perkawinan itu tidak ditentukan oleh persamaan atau perbedaan agama atau suku bangsa atau bahkan perbedaan bangsa suatu pasangan, tetapi ditentukan oleh kepribadian pasangan itu masing-masing, serta niat baik untuk saling membahagiakan, saling memberi dan menerima. Kasih itu tidak menuntut, tidak selalu mau menangnya sendiri, tanpa memperhatikan perasaan pasangannya, atau juga anak-anaknya. Kebahagian suatu perkawinan juga tergantung pada bagaimana suatu pasangan bisa menerima dan mengimbangi kekurangan masing-masing, dan bagaimana mereka bisa menjadi suatu team yang kuat dalam membesarkan anak-anak dan dalam menghadapi "dunia luar".
| Yang penting, suami istri adalah satu kesatuan, walaupun di dalamnya tidak luput dari pertengkaran. Justru tanpa pertengkaran, alangkah membosankan suatu perkawinan. Hendaknya masing-masing mempunyai kebebasan untuk menyatakan pendapat. Sebagaimana suatu organisasi, keterbukaan adalah suatu hal yang sangat penting. Diskusikan segala sesuatunya, ajukan berbagai argumentasi sebelum suatu keputusan diambil dan dijalankan bersama. Apabila ada salah satu yang maunya menguasai pihak lainnya, perkawinan itu tidak akan berbahagia karena ada salah satu yang merasa tertekan. Betul bahwa dalam adat istiadat kita, istri hendaknya menurut pada suami. Tapi masih tepatkah adat seperti itu dijalankan? Keadaan sekarang ini menuntut kesetaraan, dimana istri sering kali perlu bekerja. Saya minta kepada anak-anak laki-laki untuk memberikan kebebasan bagi istri kamu kelak untuk mengembangkan potensi dia, yang akan merupakan sumbangan bagi keluarga dan masyarakat. Janganlah kamu takut disaingi atau dikalahkan oleh istri kamu. Jadikan usaha dia untuk maju sebagai dorongan bagi kamu untuk lebih maju lagi. Justru berikan semangat, pengertian dan toleransi yang tinggi. Jangan biarkan dia bergantung sepenuhnya pada kamu. Siapkan mentalnya untuk menghadapi kemungkinan yang paling buruk dalam kehidupan ini. Kamu tidak bisa lagi mengharapkan untuk selalu dilayani oleh istri sebagaimana yang mungkin ayah kamu dapatkan dari ibu kamu, sebagaimana yang diajarkan oleh adat istiadat kita, yaitu seorang istri haruslah patuh dan berbakti pada suaminya, walaupun sesungguhnya tidak sependapat, dan selalu melayani, betapapun mangkel dan capeknya beliau. Sebaliknya untuk anak-anak perempuan, selidiki dulu calon suami kamu. Sejauh manakah dia berpegang pada adat yang mengharuskan istri selalu menurut pada suami? Apakah kamu bisa menerima hal itu, sementara kamu sudah terbiasa dengan kehidupan kampus atau mungkin juga dengan lingkungan kerja yang memberikan kamu kesempatan untuk maju? Kamu sudah tidak hidup di zaman Siti Nurbaya. Dulu saya sering dengar dari kawan-kawan laki-laki yang tidak mengizinkan istrinya untuk bekerja karena keluarga adalah tanggung jawab suami. Apakah kamu setuju dengan pendapat itu? Bagaimana kalau tiba-tiba kamu harus hidup sendiri lagi? Ayah saya yang masih lumayan kuat memegang tradisipun pernah mengatakan bahwa "sebagai wanita, kamu harus siap untuk hidup sebagai janda". Artinya, kamu harus siap untuk sewaktu-waktu berdiri sendiri, jangan tergantung pada suami. Ingat, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Selain kesempatan untuk mengembangkan diri, yang saya rasakan dalam perkawinan kami serta saya lihat pada perkawinan-perkawinan lain yang sudah cukup lama adalah "acceptance". Tidak ada manusia yang sempurna. Saya tidak sempurna, mengapa saya menuntut suami saya untuk sempurna? Saya sebetulnya paling sebel lihat pak Denny sering nonton TV, VCD atau main computer, tapi tidak berolah raga; juga sebel karena dia kurang makan sayur. Tapi apa ya saya mesti marah-marah terus karena itu? Saya tidak mau tiap hari ribut, jadi saya terimalah dia apa adanya. Semoga saja beliau sehat terus, berumur panjang. Kalau ternyata Tuhan mempunyai kehendak lain, yah, kehidupan harus terus berjalan, bersama anak-anak yang ditinggalkan (mit amit, mudah-mudahan jangan, saya pohonkan pada Tuhan semoga usianya panjang, biar saya yang duluan nggak apa, walaupun kasihan kalau dia ditinggal sendiri...). Banyak kan di antara kamu yang pernah melihat saya ribut kecil sama beliau waktu di ICAC? saya merasakan senyuman di mata kamu. Ya itu, walaupun marah dan sebel, manggilnya tetap saja "my dear" atau waktu makin marah dan makin sebel karena omongan saya nggak didengar, manggilnya lebih panjang lagi, "my love, my dear, my everything.......... mmmmmhhhhhh!!!!"***
|
| KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA 22 November 2004 Saya senang sekali mengetahui Catur berminat untuk mempelajari tentang (kalau tidak salah) masalah-masalah yang berhubungan dengan kekerasan terhadap wanita yang banyak sekali terjadi dalam rumah tangga. Anak-anak saya juga menaruh minat yang besar terhadap masalah ini. Odette (yang juga sedang mengambil law degree) pernah bekerja sebagai volunteer di sebuah NGO untuk membantu para wanita korban kekerasan dalam rumah tangga di bidang hukum, dalam hal ini membela hak-hak wanita dalam perceraian yang disebabkan oleh siksaan yang dilakukan suami mereka, sedang Denette pernah secara langsung, juga sebagai volunteer membantu mereka di suatu tempat yang memberikan training dan perlindungan bagi para korban. Alamat tempat ini dirahasiakan (sampai-sampai Denettepun tidak mau memberitahukan kepada saya) supaya para wanita yang berhasil melarikan diri dari pasangan atau suami mereka dapat bersembunyi dengan tenang, sementara juga mendapat counselling untuk mengembalikan harga diri yang sudah diinjak-injak dan untuk memberikan keberanian menghadapi kehidupan tanpa pasangannya yang kejam tsb. serta diberi kursus ketrampilan supaya bisa berdiri sendiri tanpa tergantung pada pasangan mereka. Di MIT (Massachusets Institute of Technology), sebagaimana di kantor polisi Fairfax (county atau kabupaten dimana saya tinggal), terdapat brosur yang ditujukan kepada wanita tentang siksaan phisik dan mental yang mungkin dilakukan oleh pasangan mereka, disertai dengan petunjuk-petunjuk tentang apa yang harus dilakukan oleh korban untuk menyelamatkan diri dan/atau dianjurkan untuk berbuat sesuatu supaya penyiksaan itu tidak terjadi berulang-ulang, dalam hal ini termasuk lapor pada pihak yang berwajib. Juga tersedia dukungan berupa "hot line" dimana korban bisa sewaktu-waktu menghubungi volunteer untuk counselling dengan cuma-cuma, atau polisi jika diperlukan.
Pertama kali saya mendengar adanya kekerasan terhadap wanita dalam rumah tangga adalah waktu saya masih kelas V SR (SD versi generasi orang tua kamu) di Padang. Waktu itu pembantu saya yang baru datang dari Jawa cerita bahwa ada tetangga mantan majikannya di Salatiga, seorang istri, yang sering dipukuli oleh suaminya, bahkan sampai diinjak-injak. Saya waktu itu tidak percaya, masa sih sekejam-kejamnya suami tega berbuat demikian. Pembantu saya meyakinkan bahwa itu terjadi betul. Dia bilang suaminya dari suku bangsa lain. Gara-gara itu dia dan saya yang waktu itu berpikir sederhana, serem kalau sampai menikah dengan suku bangsa tsb. Untungnya lama-lama dunia saya terbuka, dan saya tidak takut pada suku atau bangsa manapun karena semua itu tergantung dari pribadi masing-masing. Saya juga melihat bahwa ternyata ada juga orang Jawa yang dikenal halus (maaf saya sebutkan Jawa karena ayah saya dulu menekankan nilai-nilai Jawa yang menurut beliau adalah yang paling berbudaya di dunia) melakukan penyiksaan terhadap istri mereka. Hal ini saya ketahui sendiri waktu anak-anak saya masih kecil. Kami mempunyai pembantu suami istri yang tinggal bersama kami. Mereka baik terhadap kami, suaminya bekerja dengan kami sejak masih bujangan, sebelum Denette lahir. Karena itu kami tidak keberatan mereka tetap bersama kami walaupun sudah punya anak. Tapi ya itu, ternyata suaminya ringan tangan. Apalagi kalau anaknya sampai terjatuh, marahnya terhadap istri minta ampun, saya dengar pukulannya dan istrinya yang menjerit kesakitan. Berkali-kali dia kami tegur, kami marahi, tapi tetap saja dia lakukan; yang tidak kami lakukan adalah melaporkan dia ke polisi. Dia menganggap bahwa kalau istrinya menjaga anak dengan sepenuh hati, pasti anak tidak akan jatuh. Padahal kita tahu pasti, kecelakaan bisa terjadi dimanapun, dalam sedetik, walaupun itu di depan mata kita. Wah, saya jadi nulis panjang lebar, padahal maksud saya sesungguhnya adalah mau menyampaikan informasi di bawah ini yang saya dapat dari Annette, bukan hanya untuk Catur, yang mungkin bisa memakai untuk bahan penulisan, tapi juga untuk kamu semua. Siapa tahu pada suatu waktu kamu perlukan, mungkin untuk membantu orang lain yang menjadi korban kekerasan. Jangan sampai kamu biarkan dia menderita. Berikan nasehat untuk mendapatkan jalan keluarnya, termasuk bahwa dia harus melakukan sesuatu; dia harus merubah sikap, sebab kalau tidak, penyiksaan itu akan terus berlangsung. Orang lain tidak akan berubah kalau kita tidak berubah. | Jadi kitalah yang harus berubah, taking charge of our life, menguasai hidup kita sendiri. Dalam hal ini bukan hanya korban yang perlu ke counselling, tapi suaminya juga supaya sadar bahwa yang dilakukan sama sekali tidak bisa dibenarkan. Tentu saja tulisan itu berguna untuk kamu, just in case, walaupun saya percaya kamu tidak akan mengalaminya, karena yang wanita akan atau sudah mendapatkan suami yang baik, sedang yang laki-laki sudah atau akan menjadi suami yang baik dan bijaksana, menyayangi dan menghormati istri, tidak akan memperlakukan istri dengan sewenang-wenang . Betapapun pengetahuan itu sangat berguna, baik untuk kita sendiri maupun untuk orang lain. Saya tahu, budaya kita menyulitkan kita untuk menyelesaikan masalah rumah tangga lewat hukum karena kuatir apa kata orang nanti, mungkin dikucilkan oleh sanak saudara, status, ketergantungan di bidang finansial, dll. Walaupun demikian, sesuatu harus dilakukan. Kita harus berani merubah hal-hal yang tidak bisa diterima. Sebagai tambahan kalau diperlukan, di bawah ini adalah 2 buah yayasan yang membantu para wanita korban kekerasan dalam rumah tangga. Yayasan Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan Mitra Perempuan Jl. Tebet Barat Dalam II D, No.30, Jakarta 13041, Tel. (21) 83790010 Fax. (21) 8291708. Email: mitra@perempuan.or.id Website: www.perempuan.or.id
Yayasan Pulih (Pulih Foundation (Center for the Prevention and Intervention of Psychological Trauma) Jl. Kemang III / 8A, Jakarta 12730. Tel / Fax. (21) 719 5444. E-mail : pulih @cbn.net.id Nasehat umum untuk para wanita korban kekerasan dalam rumah tangga di bawah ini ada baiknya juga untuk kita ketahui karena banyak yang bisa diterapkan di Indonesia.
2. Simpanlah dokumen-dokumen dan barang-barang penting lainnya ditempat yang sewaktu-waktu mudah diambil jika sewaktu-waktu anda memutuskan untuk pergi. Termasuk didalamnya uang, akte kelahiran, dan alamat-alamat serta nomor-nomor telephone yang penting. 3. Mintalah bantuan. Hubungi polisi, atau yayasan
yang memberikan tempat berteduh atau teman yang dapat membantu
ketika diperlukan. 5. Waspadalah. Pada waktu membuat rencana
untuk melarikan diri, lakukanlah ini secara rahasia, jangan berikan
tanda-tanda kemana anda akan pergi. Beritahu teman-teman dan teman
sekerja bahwa anda telah meninggalkan orang yang melakukan kekerasan
dan beritahu tetangga untuk melaporkan orang yang melakukan
kekerasan pada polisi jika mereka melihatnya. Di Amerika penting
untuk melakukan hubungan telephone lewat telephone umum supaya tidak
bisa dilacak. 8. Pikirkan hari depan. Meninggalkan sesuatu tidak pernah mudah, tapi ada saatnya dimana anda siap untuk "terjun", untuk berani melakukan sesuatu. Bayangkan kehidupan anda yang baru tanpa dia. 9. Ambil jalur hukum. Kalau mungkin dapatkan perintah pengadilan supaya orang yang melakukan kekerasan tidak berada di dekat korban. Di Amerika "restraining order" ini bisa didapatkan. Polisi bisa menahan suami yang melakukan kekerasan misalnya, jika dia mendekati korban. Dalam hal ini yang terpenting adalah bahwa korban berada di tempat aman, dilingkungan orang-orang yang dapat melindungi dia jika suaminya mengancam untuk melakukan kekerasan. 10. Bersikaplah baik terhadap diri sendiri. Berdoa, meditasi, makan makanan sehat, olah raga, dll.
|
|
NILAI-NILAI
TRADISIONIL VS MODERN?
7 Oktober 2004 dan 22 Januari 2005.
Pada bulan Oktober 2004 saya pernah mengirimkan tulisan seperti ini lewat milis kita terutama sebagai tanggapan atas email Teguh (3 Oktober 2004) dengan judul yang manis sekali, " ibu anakmu bersuara....". Saya juga senang membaca usul Hidayat untuk memberikan training tentang pengenalan budaya-budaya lain, baik di Indonesia dan kalau mungkin juga di dunia. Hal itu menunjukkan kemauan kamu untuk membuka diri terhadap perbedaan yang ada, dan menghormati adat dan pemikiran lain. Adanya pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat kita tidak selalu berarti bahwa orang lain itu salah; hanya berarti bahwa orang itu mendapat ajaran lain dan mempunyai pengalaman yang berbeda dari kita. Kita perlu mengerti jalan
pikiran orang lain sebelum kita menyalahkan orang tsb. karena sering
kali walaupun pendapatnya berbeda dengan pendapat kita, pendapat itu
masih mempunyai alasan yang baik menurut latar belakang dan
pengalaman orang itu. Dalam emailnya Teguh bersikap seperti tokoh wayang kesayangan saya, Raden Gatotkaca yang berani menyampaikan kebenaran dan membela keadilan, walaupun hal itu berarti melawan pandapat atau tindakan orang tua yang pantas dan seharusnya dihormati. Perlawanan ini dilakukan dengan tanpa mengurangi rasa hormat yang nampak jelas ditunjukkan. Dalam hal iniTeguh menyampaikan beribu-ribu maaf kepada ibunda sebelum memberikan pendapat yang berlawanan. Buat saya tidak apa-apa sama sekali, saya tidak kecil hati. Mahasiswa-mahasiswa dulu sering mendengar dari saya, "Kalau tidak setuju atau kalau tidak sependapat dengan saya, silahkan bicara. Jangan kuatir, kamu tidak akan kehilangan bea siswa". "Kita bisa bertukar pikiran". "We have to agree to disagree". Banyak hal-hal yang kamu lihat atau ketahui yang tidak saya lihat atau ketahui, dan sebaliknya. Justru hal inilah yang memperkaya kehidupan kita. Bicarakan perbedaan-perbedaan pendapat secara terbuka untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Kamu perlu mengetahui pendapat orang, bangsa atau kelompok lain, sekalipun itu musuh kamu. Dengan demikian akan memudahkan kamu untuk mengerti dan memasuki jalan pikiran mereka, yang semoga bisa memberikan jalan bagi perdamaian. Pakai pendekatan sosiologis-anthropologis - begitulah. Budaya untuk bicara secara terbuka ini bukan hanya milik Amerika dan tidak berasal dari Amerika, tapi sangat umum dilakukan di dunia Barat (ah, kamu pasti tahu tentang ini), dan berasal dari Eropa. Tentang nilai-nilai tradisionil dan modern yang dianut oleh masyarakat Indonesia, dalam hal ini seberapa besar nilai tradisionilnya dan seberapa besar modernnya, tergantung dari berbagai individu yang bersangkutan, yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial-budaya masing-masing. Dalam hal ini pendidikan mempunyai peranan yang penting sekali. Saya tidak setuju kalau nilai-nilai modern dipertentangkan dengan etika dan nilai-nilai agama karena tidak selalu bertentangan. Kalau kamu melihat Amerika dari dekat, kamu bisa melihat masih banyaknya orang-orang Amerika yang memegang teguh etika dan agama. Kesan ini mungkin tidak kamu dapatkan dari film-film yang ada di theater dan TV serta penerbitan yang biasa kita lihat dan baca. Karena kesan negative yang nampak di luar Amerika inilah antara lain dulu orang tua saya menentang rencana pernikahan pak Denny dan saya. Orang tua saya kuatir kalau pernikahan kami hanya bertahan sebentar karena kalau lihat film, nampaknya orang Amerika mudah kawin cerai, seperti yang ada di film atau seperti kehidupan bintang filem pada umumnya. Kenyataan adalah perkawinan kami tetap kuat walaupun telah berlangsung selama 30 tahun. Saya jadi ingat supir taxi yang mengantarkan teman saya, seorang Amerika yang baru pindah ke Jakarta. Supir tsb. bilang bahwa dia takut tinggal di Amerika karena lihat filem-filem Amerika yang isinya tembak-tembakan melulu. Teman saya bilang bahwa dia lebih takut tinggal di Jakarta karena lalu lintasnya berantakan dan banyak supir-supir yang ngebut.
|
Tentang nilai-nilai tradisionil vs. modern? Ingat ya nak, dunia itu tidak putih, juga tidak hitam. Dunia itu abu-abu. Kalau kamu menempatkan hitam disatu kutub dan putih di kutub lain, kamu akan melihat "grey area" yang besar sekali, warna abu-abu yang mendominasi ruang antara kedua kutub itu. Kamu akan melihat warna abu-abu yang gelap, lebih gelap dan gelap sekali, juga sebaliknya. Nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh seseorang ataupun suatu kelompok sosial, baik besar maupun kecil adalah juga merupakan perpaduan antara nilai-nilai tradisionil dan modern. Kembali, berapa besar unsur tradisionilnya, atau modernnya (yang nota bene berasal dari Barat), tergantung pada kontak-kontak budaya ybs. Kepribadian saya sendiri merupakan hasil perpaduan nilai-nilai tradisionil Indonesia dengan budaya Barat yang menurut pendapat saya pribadi baik, walaupun tidak sempurna Soal saya lebih ke Barat atau masih tebal Indonesianya, orang lain yang mengenal saya dengan sangat baiklah yang bisa menilai. Satu hal yang pasti, saya sangat sensitif terhadap rasa hormat terhadap orang tua. Dalam hal-hal tertentu, ke-Jawa-an atau ke-Indonesia-an saya keluar langsung ke bagian yang paling atas. Tapi saya tidak bisa terima jam karet. Contoh adalah cara-cara pejabat yang waktu mengundang yayasan-yayasan, mereka sendiri datang terlambat membiarkan tamu-tamunya menunggu sendirian, sesudah tamu-tamu kumpul, datang terlambat mereka baru datang, menempatkan diri sebagai "pembesar" yang seharusnya dihormati, bukannya sebagai "pelayan masyarakat" yang mendekatkan diri dan membuat masyarakat merasa comfortable menyampaikan keluhan atau masalah yang mereka hadapi. Terpaksalah saya bicara, mengajukan kritik dan saran untuk perbaikan, yang diterima dengan baik. Tentang pendidikan sex, baik sekali bahwa dalam batas-batas tertentu yang dirasa comfortable orang tua telah memberikan pendidikan sex bagi anak-anaknya. Pesan saya untuk kamu setelah berkeluarga dan punya anak nanti, siap-siaplah menghadapi kemungkinan - dan karenanya perlu melakukan usaha pencegahan pelecehan seksual terhadap anak, juga menjawab pertanyaan anak misalnya, "saya datang dari mana"? "mengapa ada adik di perut ibu?", "mengapa orang tua selalu kuatir anak perempuannya hamil"? Dalam rangka mempersiapkan diri itulah saya membaca buku. Saya pernah diwawancarai oleh Ben's Radio, dalam suatu talk show, tentang pendidikan dan pelecehan seksual bagi anak-anak. Padahal pendengarnya umumnya adalah warga Betawi yang masih tradisionil. Saya waktu itu kuatir kalau-kalau studionya dilempari batu karena karena masalah seks adalah masalah yang umumnya tabu untuk dibicarakan dalam masyarakat kita. Mereka meyakinkan saya, tidak apa, dan ternyata mereka benar. Studio masih berdiri dengan gagahnya sampai sekarang ini, dan orang-orang yang umumnya masih bersikap tradisionilpun ternyata bisa menerima saran untuk memberikan pendidikan sex bagi anak-anak. Nilai-nilai atau ajaran tradisionil banyak yang bagus dan perlu dipertahankan. Kita tidak perlu malu karenanya. Saya tidak bisa melupakan dan meninggalkan ajaran yang sering disampaikan oleh ayah saya waktu menidurkan putra-putranya dulu. Beliau "nembang", melantunkan "Kinanti", suatu tembang Jawa berisi pesan untuk tidak bersenang-senang melulu, tapi juga perlu mengurangi makan dan tidur (jaman dulu dijalankan dengan berpuasa dan bertapa) untuk mengasah otak dan menggembleng phisik dan mental (termasuk silat); kegiatan-kegiatan itu menuntut disiplin yang sangat tingggi, supaya nantinya menjadi orang yang pandai dan bijaksana, dapat memimpin masyarakat dengan adil. Saya juga merasa cocok dengan konsep "manunggaling kawula-Gusti", yaitu bersatunya Tuhan dengan hambanya. Konsep ini mungkin mudah menimbulkan kontradiksi. Saya sendiri menafsirkan sebagai kehadiran Tuhan dalam diri kita, sehingga kita hanya berbuat kebaikan, memberikan keteduhan dan kasih sayang, mengucapkan kata-kata yang menyejukkan perasaan, memberikan nasehat yang bijaksana, melangkah di jalan yang benar, tapi juga sekaligus waspada. Jadi sama sekali tidak berarti bahwa kita mempunyai sifat-sifat Ketuhanan, yang hanya bisa dimiliki oleh Tuhan sendiri. Harga diri juga merupakan nilai yang menurut saya perlu dipertahankan. |
Sering terngiang ditelinga, ajaran kakak-kakak saya waktu mapram di FSUI tahun 1968 dulu, "Biar miskin asal sombong". Sombong disini tidak berarti arogan, tapi ditafsirkan sebagai harga diri yang perlu dipertahankan, tidak mau disuap walaupun dianggap sombong; walaupun penampilan sederhana, tapi harga diri dijaga. Karena harga diri inilah kita tidak boleh korupsi. Korupsi itu sama dengan mencuri atau merampok karena menerima atau mengambil uang atau barang yang bukan menjadi hak kamu. Betapa kayapun seseorang, kalau kekayaan itu diambil dengan cara korupsi atau menekan atau merugikan hak orang lain atau hal-hal semacam itu, saya tidak punya respek sama sekali pada orang itu. Harga dirinya jatuh dimata saya, pasti jatuh juga dimata kamu. Kita sedih sekali karena Indonesia dikenal sebagai juara korupsi di dunia. Mengapa demikian? Menurut suatu analisa yang pernah saya baca, ternyata akarnya ada pada nilai budaya yang memberikan tekanan sosial bagi orang-orang yang dianggap maju untuk tidak maju sendiri, tapi harus membantu sanak-saudara, teman, dll. Kalau hal itu tidak dilakukan, dia tidak akan disukai, atau akan dikucilkan atau dibenci oleh lingkungan sosialnya (mungkin lingkungan keluarga, atau lebih besar lagi). Juga adanya kewajiban terhadap orang tua terutama dalam masyarakat Jawa, dimana anak laki-laki tertua harus "mikul duwur mendem jero" yang berarti memuliakan orang tua dengan hal-hal yang membanggakan yang sering kali diperlihatkan dengan materi. Tentu saja kita semua sangat ingin membahagiakan orang tua, keluarga, teman-teman, saudara-saudara, semuanya saja. Lha bagaimana kalau pendapatan yang halal hanya cukup untuk hidup, itupun sering kali pas-pasan atau mungkin sesungguhnya masih kurang, tapi jabatan tinggi (inipun relatif) dan punya wewenang untuk mendapatkan uang atau memberikan pekerjaan bagi saudara-teman walaupun sesungguhnya tidak memenuhi syarat? Kalau pada suatu waktu kamu menghadapi hal ini kamu harus kuat menghadapi tekanan sosial, mohon maaf karena tidak bisa membantu, atau bantuan yang kamu berikan sangat terbatas, tapi tetaplah bersikap adil dan berjalanlah diatas kebenaran. Yakinlah, lama-lama mereka akan diam dan justru akan salut menghargai kamu karena kamu memegang prinsip kebenaran. Saya tidak tahu berapa banyak diantara orang tua kamu yang masih mempunyai pendapat sama dengan bude-bude saya dulu, bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena tempatnya di dapur. Karena itu kesempatan pendidikan bagi keluarga yang berpendapatan pas-pasan atau malah kurang pada umumnya diberikan pada anak laki-laki. Padahal sesungguhnya anak perempuan juga mempunyai potensi yang sama, atau menurut penglihatan saya yang terbatas ternyata para juara kebanyakan anak perempuan. Bagaimana di tempat kamu? Yang jelas banyak di antara kamu yang jadi juara kan? dan anak-anak perempuan? Jadi semestinyalah anak-anak perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk maju. Untung juga sekarang ini banyak orang tua yang sudah meninggalkan nilai tradisionil yang ini. Alangkah sayangnya kalau sumber daya manusia tidak bisa dikembangkan karena judulnya "perempuan". Betapa rugi negara kita. Tapi yang ini bukan monopoli negara-negara Timur lho. Dulu di Barat-pun kesempatan untuk maju sangat terbatas bagi anak-anak perempuan. bahkan wanita-wanita Amerika tidak mempunyai hak politik dan tidak boleh ikut pemilu. Keadaan ini berakhir setelah adanya usaha-usaha termasuk demonstrasi oleh para wanita muda yang menuntut persamaan hak politik dengan laki-laki. Dengan beraninya mereka menghadapi tantangan yang diberikan dengan kasar oleh banyak orang laki-laki di jalan. Karena era globalisasi, tidak mungkin kita menutup diri dari pengaruh luar. Karena kita mau maju, kita harus berani melihat kekurangan-kekurangan kita dan merubah diri untuk menjadi lebih baik. Kita harus siap untuk bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Kita tidak perlu membuang semua nilai-nilai tradisionil, tapi kita perlu membuang nilai-nilai tradisionil yang menghambat perkembangan kita. Jepang, kemudian Malaysia yang pernah belajar dari kita adalah contoh-contoh yang baik karena mereka berhasil memadukan nilai-nilai tradisionil dengan nilai-nilai modern untuk memajukan negara mereka. Satu hal yang sangat saya kagumi dari Jepang adalah disiplin mereka yang tinggi sekali. Dengan disiplin yang tinggi itulah mereka bisa begitu maju. Juga disiplin itulah merupakan satu hal yang sangat utama yang harus kita perbaiki supaya negara kita bisa maju, dan harus kita mulai dari diri kita masing-masing, memberikan contoh bagi lingkungan kita masing-masing. |