Sri Lienau's Second page...continued! for page (3) click here!

PENDIDIKAN UNTUK PARA CALON ORANG TUA DAN BAPAK-IBU MUDA

 2 Mei 2003

Baru-baru ini saya mendapat pertanyaan dari Nia Damayanti yang punya anak kecil dan lucu, tentang bagaimana cara saya mendidik dan membesarkan anak-anak karena dia melihat keberhasilan Odette, Annette dan Denette memasuki sekolah-sekolah terkemuka di Amerika. Nia sendiri pada jamannya pak Harto dulu pernah menjadi aktivis PRD dan merasakan  pahitnya pil perjuangan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Pernah pada waktu hamil muda, dengan terpaksa menginap selama beberapa hari di markas besar tentara untuk diinterogasi. 

 

Pertanyaan Nia mengingatkan saya pada bagaimana saya mempersiapkan kelahiran anak pertama. Sejak hamil muda saya membaca buku-buku tentang kehamilan dan perawatan bayi, dan bagaimana menumbuhkan kreativitas anak serta mendorong seorang anak untuk mandiri sejak masih sangat dini. Buku-bukunya bahasa Inggris, dan bahasa Inggris saya dulu belum semaju sekarang. Tapi karena saya main telan, tidak menyerah, malas buka kamus, hanya sekali-sekali bertanya pada kamus berjalan yang ada disamping saya, bahasa Inggris saya malah jadi lebih baik disamping dapat pengetahuan yang saya perlukan. Saya jadi belajar bahwa banyaknya protein yang masuk pada waktu ibu sedang  hamil sangat besar pengaruhnya pada kecerdasan bayi yang akan dilahirkan. Karena itu makanan dan minuman yang saya telan diperhitungan benar jumlah protein dan vitamin, juga cairan yang masuk, baik berupa air minum maupun kuah sayuran. Saya tidak suka makanan-makanan aneh yang dianjurkan oleh buku-buku diet berbahasa Inggris, jadi saya carilah buku diet Indonesia. Saya jadi belajar bahwa tempe dan tahu serta ikan asin memiliki kandungan protein yang tidak kalah dengan daging dan ayam. Pada waktu Odette lahir, Odette mendapat kiriman hadiah berupa buku yang tebal dengan gambar-gambar yang besar dan menyolok dan menarik dari paman dan bibi Scherer di Amerika. Disitu mata saya menjadi terbuka bahwa di Barat, buku sudah diberikan sejak anak masih bayi. Dengan demikian mereka dibiasakan memegang dan membaca buku sejak masih sangat dini, walaupun bayi tidak mengerti apa yang kita ucapkan. Suara-suara serta gambar-gambar berwarna memberikan rangsangan-rangsangan bagi anak untuk berpikir, berbicara dan melakukan sesuatu. Mainan yang diberikan adalah mainan yang sifatnya mendidik, yang bisa dibongkar pasang, yang merangsang kreativitas, atau permainan seperti memory games yang mempertajam ingatan.

 

Saya belajar bahwa pistol-pistolan dan film-film yang bersifat kekerasan merangsang seorang anak untuk bersikap agresif. Kami belajar bahwa konsep “family bed” memberikan perasaan aman dan kehangatan bagi anak serta kebahagiaan bagi segenap keluarga. Dengan menggunakan “family bed” yang biasanya tidak dilakukan oleh keluarga Barat tapi masih sering sekali dilakukan oleh keluarga Indonesia, anak-anak, baik bayi maupun sudah besar, selalu “welcome” untuk tidur bersama orang tua. Saya belajar untuk tidak memanjakan anak. Anak harus belajar menanggung resiko atas semua perbuatannya. Anak harus belajar makan sendiri, tidak disuapi terus menerus. Kalau nggak mau makan, lapar. Pada waktu makan, makanan tidak boleh dibuang atau dipakai untuk mainan. Kalau dipakai untuk mainan, makanan diambil. Setiap kali, dan setiap mau tidur, baik Mr. Lienau atau saya selalu membaca buku cerita untuk anak-anak, sambil tiduran bersama di – ya tempat tidur keluarga itu – yang sesungguhnya adalah tempat tidur Mr. Lienau dan saya. Kadang-kadang gantian, anak-anak yang “membaca buku” untuk adik, kakak ataupun kami, orang tuanya, walaupun membaca buku berarti menginterpretasikan gambar-gambar yang ada. Sejak anak-anak masih kecil, kemanapun kami pergi termasuk ke dokter atau mengunjungi eyang kakung dan eyang putri, anak-anak selalu membawa buku dan buku gambar serta crayon sehingga dimanapun berada mereka selalu bisa melakukan kegiatan yang kreatif. Saya belajar untuk tidak membanding-bandingkan anak-anak. Sebagai orang tua kita harus melihat bahwa setiap anak itu spesial, kita harus menerima setiap anak apa adanya. Membanding-bandingkan anak hanya akan memperbesar perasaan iri diantara anak-anak yang pada dasarnya sudah ada. Hal itu akan memperbesar pertentangan di antara mereka yang kalau berlangsung terus akan menjadi tidak sehat pada waktu mereka dewasa. Yang harus dilakukan orang tua justru menjembatani perbedaan-perbedaa itu dengan mengajak anak melihat hal-hal positif yang ada pada kakak atau adik. Sejak bayi anak-anak sering diajak pergi keluar supaya melihat pemandangan yang berlainan. Pada waktu di supermarket anak diberi tahu nama barang-barang yang dipajang, termasuk warna dsb.  Kemanapun kami pergi, di dalam perjalanan kami melakukan kegiatan yang menyenangkan dan mengasah otak. Menyanyi bersama, main cepet-cepetan mencari huruf, atau nomer, atau barang-barang yang memiliki warna-warna tertentu. Kadang-kadang kita menanyakan huruf-huruf yang terpampang di jalan atau di toko

Anak diajari untuk berani bernyanyi, menari dan bertanya kepada siapapun juga. Hukuman yang diberikan adalah hukuman yang mendidik. Misalnya tidak boleh nonton TV, tergantung kesalahannya, satu hari atau seminggu, tidak boleh main ke rumah teman, dsb. Tidak boleh makan makanan yang manis sebelum makanan utama dihabiskan. Kalau ambil makan harus secukupnya, tidak boleh tersisa di piring. Kalau sampai tersisa, dimasukkan ke kulkas untuk dihabiskan lagi waktu makan berikutnya. Pada waktu adik menanyakan sesuatu, saya minta kakaknya memberikan jawaban lebih dulu sebelum saya memberikan jawaban yang sifatnya melengkapi keterangan yang sudah diberikan oleh kakak. Pendidikan sex saya berikan sejak dini. Pada waktu anak bertanya, dari mana dan bagaimana saya lahir, mengapa saya ada di perut ibu, saya jawab pertanyaan mereka dengan sejujurnya. Saya sependapat dengan para ahli yang mengatakan bahwa lebih baik anak-anak mengetahui tentang sex dari orang tua dari pada dari teman-teman atau bahan bacaan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Dengan adanya keterbukaan ini, anak akan dapat bebas bicara apabila ada masalah. Saya mengikuti seminar tentang sex abuse awareness untuk anak-anak. Saya jadi belajar untuk melatih kewaspadaan anak untuk menghindari diri dari korban pelecehan seksual. Saya tidak memberikan beban kepada anak tertua untuk bertanggung jawab atas segala sesuatu, termasuk kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh adik-adiknya. Semua anak mempunyai hak dan kewajiban sama, dan bertanggung jawab atas perbuatan mereka masing-masing. Saya belajar untuk tidak menakut-nakuti anak, tidak mengatakan “ kamu nakal” atau “dia nakal” atau bodoh, dsb, yang dapat menurunkan moral mereka. Kata-kata yang diucapkan adalah untuk memperkuat dan memperbesar rasa percaya pada diri sendiri. Saya belajar untuk berbicara dan mendengarkan dengan effektif. Anak-anak boleh mempertanyakan kebijakan orang tua, mengapa sesuatu tidak diperbolehkan, boleh berargumentasi terhadap orang tua dan satu sama lain, selama dilakukan dengan sopan. Boleh marah, tapi tidak boleh merusak barang dan membentak-bentak. Kemauan anak tidak selalu dituruti walaupun keuangan memungkinkan, misalnya minta permen. Sebaliknya kalau disebabkan tidak punya uang, alasan itu pulalah yang dengans ejujurnya diberikan. Last but not least, anak-anak diajarkan untuk selalu mengucapkan terima kasih atas bantuan dan pemberian dari orang lain, walaupun orang lain itu pembantu ataupun keluarga sendiri, dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan, juga terhadap siapapun. Wah, pokoknya banyak banget deh yang bisa di share. Pasti banyak yang kelupaan. Kamu bisa lihat dari tulisan-tulisan saya yang lain. Mudah-mudahan pengalaman saya ada gunanya untuk kamu dalam mendidik anak. Sorry, I have to go.          

PENGANTEN-PENGANTEN

 23 Oktober 2001.

“…  No other love of the sweet contentment that I find with you…. every time….. every time……

Sekarang ini sedang masanya pengantenan. Eka dan Adi menikah bulan ini. Beberapa alumni kita sudah menikah. Malah Muh. Noer  yang masih mahasiswapun juga sudah berani menikah. Banyak di antara kamu lainnya yang mungkin juga sudah memikirkan pernikahan. Karena itu cerita kali ini sedikit berbeda dari pada biasanya.

 

Saya jadi ingat percakapan suatu malam dengan Odette. Sayang saya tidak bisa menyampaikan apa yang dia ceritakan, tapi response saya adalah “Daddy was romantic, too” sambil senyum, sementara daddy was sitting watching TV.  Yang saya tuliskan diatas adalah seuntai kata-kata romantis lagu kesayangan saya waktu masih muda, pacaran dan kemudian bertunangan, membayangkan bahwa sesudah menikah nanti, Mr. Lienau akan selalu “available” untuk saya…. every time…. every time…..  eh, sesudah sekian tahun menikah ternyata berbeda dengan yang saya bayangkan dulu….  Dia lebih asyik menikmati koran, majalah, TV dan video, dari pada ngrobrol sama saya apalagi menemani saya belanja. Ketika saya sampaikan hal ini pada Odette, dia bilang :”You are so silly, mom” sambil ketawa geli. Untunglah dia sudah tahu bahwa pasangannya  tidak bisa diharapkan romantis terus seumur hidup walaupun kamu bisa  berdampingan seumur hidup. Gimana bisa romantis terus menerus wong sesudah kawin kamu direpoti dengan urusan keuangan, pekerjaan, tanggung jawab, anak-anak, pendidikan, plus yang tidak kalah bikin pusingnya adalah kewajiban sosial. 

 

   

 Kamu menyadari adanya harapan-harapan dari kakak, adik, orang tua, mertua, ipar-ipar, saudara-saudara, dan sebagainya .  Kamu mempunyai beban moral untuk membantu mereka, padahal kamu baru saja mulai menempuh hidup baru, sementara kebutuhan kamu sebagai  keluarga baru masih banyak sekali. Sungguh merupakan suatu beban yang sangat berat. Apalagi kalau ada perasaan bersalah dan nggak enak karena tidak dapat memenuhi harapan orang tua atau mertua.  Dalam hal ini yang terpenting adalah  saling keterbukaan di antara kamu berdua. Jangan sekali-sekali memberikan bantuan kepada siapapun dengan sembunyi-sembunyi. Kalau tidak bisa membantu katakan terus terang, dengan senyum dan sympati cara Jawa, bukan cara Batak: “Kami bisa merasakan kesulitan kamu. Kami rasanya ingin sekali membantu. Tapi sayan sekali kami belum mampu untuk membantu. Jadi ya, coba saja usahakan ke tempat lain”.  Kamu harus kuat menghadapi tekanan sosial, omongan-omongan yang mengatakan bahwa kamu nggak mau tahu sama saudara, kamu sombong dll. Lha habis, dari pada ikut-ikutan KKN yang kamu tentang habis-habisan? Sebaiknya kamu ikut berpegangan pada tekad saya sejak menikah ditahun 1974 :”As long as we are together I feel strong to face the world”.  Sembunyi-sembunyi yang saya dukung adalah mempunyai simpanan rahasia yang banyak dilakukan oleh para istri.  Kata Annette, menurut statistik, para istri lebih pandai menyimpan uang dari pada para suami. Suami-suami itu (kebanyakan lho) kalau lihat masih ada uang maunya pakai saja kalau ada yang menurut dia dirasa perlu. Sedangkan para istri kuatir kalau dalam keadaan darurat tidak ada uang sama sekali. Itulah yang menyebabkan mereka punya simpanan rahasia. Mungkin kamu bertanya, lha bu Sri punya simpanan rahasia apa enggak? Lha wong namanya saja rahasia, mosok diomong-omongin.

 I was blessed with love to love you till the stars burnt out above you till the moon is above the silver shade…… 


PERGAULAN DILINGKUNGAN INTERNATSIONAL

 11 Oktober 2001

Banyak di antara kamu yang tahu bahwa saya berasal dari keluarga Jawa yang tradisionil. Ayah saya adalah seorang priyayi Jawa yang dulu jadi perwira angkatan darat sehingga dalam mendidik anak  menerapkan prinsip-prinsip campuran Jawa dan militer. Berbeda dengan cara saya mendidik O, A dan D, orang tua saya melarang putra-putranya mempertanyakan kebijaksanaan beliau. Jawaban yang sering disampaikan adalah “because I say so”.   Salah satu nasehat yang sering beliau tandaskan adalah “Jangan ikut mencampuri pembicaraan orang lain kalau kamu tidak diajak bicara”. Nasehat inilah yang kemudian membuat saya merasa tersiksa dalam pergaulan internatsional. Untungnya saya cepat diajari sahabat saya, Ruth, yang berasal dari Amerika untuk meninggalkan cara-cara Jawa seperti itu  kalau mau bergaul di kalangan internasional. Yang jelas kalau saya tetap mau memakai ajaran ayah saya, saya nggak bakalan punya banyak teman dari mana-mana seperti sekarang ini. Lha habis, kalau saya diam saja, tidak memperkenalkan diri atau tunggu diperkenalkan oleh orang lain,  tidak ikut nimbrung dalam percakapan orang lain menunggu dilibatkan oleh orang lain, ya nanti mereka pikir saya adalah orang yang tidak menarik, yang tidak tertarik pada kehidupan, pada orang lain, orang yang tidak mempunyai pengetahuan, atau pendirian, dan/atau orang yang tidak bisa bahasa Inggris. Kayaknya begok dan membosankan sekali saya. Kalau begitu bagaimana saya bisa mengharapkan mereka untuk menghargai saya? Karena itu saya jadi suka nimbrung pembicaraan orang lain, menyumbangkan pendapat, atau membagi pengalaman, atau menanyakan pengalaman mereka atau sesuatu yang mereka ketahui.

 

 

 


 

 

Saya merasa bahwa setiap orang pasti mempunyai  latar belakang, pengalaman ataupun pengetahuan yang menarik bagi orang lain. Hal-hal itulah yang saya gali untuk memperkaya kehidupan saya. Sebaliknya saya juga melihat banyaknya sisi-sisi kehidupan saya yang dianggap menarik bagi orang lain.  Adanya saling tukar pikiran dan pengalaman inilah yang menyebabkan saya krasan ngobrol sehingga dalam pesta-pesta Mr Lienau dan saya sering kali menjadi dua di antara beberapa orang yang pulang paling akhir. Saya melihat bahwa orang menghargai orang lain bukan karena pakaian atau kendaraan yang dipakai, tapi semata-mata karena apa yang ada di dalam diri kita. Sering kali saya melihat tokoh-tokoh intelektual Indonesia yang kehidupannya sederhana, tapi dengan akrabnya ngobrol dengan orang-orang asing yang secara materiil jauh lebih mampu.  Tapi kadang-kdang saya juga melihat orang-orang yang berpakaian indah dengan perhiasan gemerlapan yang duduk  atau berdiri menyendiri sepertinya merasa bosan. Saya juga pernah melihat sekelompok orang  muda yang mau dikirim belajar ke luar negeri, tetapi menyendiri melihat orang-orang lain yang ngobrol dengan asyiknya. Setelah saya beritahu, mereka baru sadar bahwa mereka harus meninggalkan cara Jawa atau Indonesia yang seperti saya sebutkan di atas untuk bisa bergaul dengan orang-orang asing. Dari pergaulan ini saya juga belajar bahwa kontak mata itu perlu karena mata adalah jendela hati kita. Mata memberikan kesan apakah kita menghargai atau mengacuhkan orang lain, apakah kita punya PD ataukah kita minder, apakah kita menyambut kehadiran orang lain dengan hangat ataukah kita menginginkan orang lain tersebut pergi dari muka kita, dll, dll. Saya belajar bahwa pada dasarnya manusia itu ingin bergaul dengan manusia lain. Karena itu saya tidak segan-segan untuk memperkenalkan diri dan menyapa orang lain, walaupun mungkin dia jauh lebih kaya atau jauh lebih pinter dari saya. Dalam hal ini motto “biar miskin asal sombong” atau “biar bodo asal sombong” tidak berlaku.  Begitu lho anak-anakkkkk!!!! ****

 

 

 

READING, BEING ON TIME, CONVERSATION

 3 Oktober 2001

Yang ini pengalaman dengan pejabat pemerintah.  Sesekali saya mendapat undangan untuk menghadiri rapat atau pertemuan dengan pejabat pemerintah beserta organisasi-organisasi lain yang disebut contact meeting. Tujuannya adalah untuk bersilaturahmi, bertukar pengalaman, saling membantu dan sebagainya. Dalam undangan kadang-kadang dicantumkan saran atau instruksi (tergantung ngelihatnya) untuk datang tepat waktu. Saya yang merasa berdosa kalau sampai terlambat jadi tegang rasanya, berusaha supaya bisa tiba sebelum waktunya. Soalnya saya sendiri tidak suka kalau orang lain terlambat., apalagi kalau mahasiswa-mahasiswa yang saya banggakan itu terlambat datang ke training, sementara yang ngajar sudah sampai di ICAC, menunggu dengan sabarnya, dan mungkin juga dengan sebelnya. Maaf, wong mau ngomongin tentang instansi pemerintah kok ngelantur jadi ngomogin mahasiswa sih? Tapi ya harap maklum sajalah students, you are always in my mindJ Kembali ke cerita semula. Seingat saya, saya belum pernah terlambat datang, walaupun tempatnya diujung langit Tanjung Priok sana.  Saya selalu menunggu.

Saya sesungguhnya berusaha menghindari kata ”selalu” atau “tidak pernah”, misalnya “kamu selalu terlambat” atau “saya tidak pernah makan jengkol”,  

 sebab siapa tahu mungkin saya lupa bahwa ternyata kamu pernah tidak terlambat atau ternyata saya pernah makan jengkol, cuma nggak ingat kapan. Karena pada umumnya saudara-saudara sebangsa dan setanah air saya sering terlambat sementara saya tidak suka menunggu, atau kalau saya terpaksa harus menunggu pikiran saya harus jalan, sebab kalau tidak saya merasa gelisah, maka saya hampir selalu membawa bacaan, biasa.  Kebiasaan membawa bacaan, baik majalah ataupun buku saya tanamkan pada O, A dan D Lienau sejak kecil sehingga hal itu menjadi kebiasaan sampai sekarang. Mr. Lienau adalah orang yang paling tidak suka menemani saya belanja atau cuci mata di mall atau department store, sebagaimana suami-suami lain pada umumnya (siap mental ya para calon istri – betapapun romantisnya pacar atau calon suami kamu sekarang; jangan berharap – bahasa Inggrisnya ‘expect’ - bahwa sekian tahun kemudian dia akan dengan segala senang hati menemani kamu belanja)  - tapi kadang-kadang karena harus menunggu (misalnya waktu berperan sebagai supir di Amerika karena saya nggak berani nyupir mobil milik ibu mertua), jadi duduklah beliau di pojok toko sambil baca majalah. 

Makanya saya sering kali merasa heran kalau lihat mahasiswa-mahasiswa yang menunggu di ICAC, kok ya bisa to diam saja !?

!  Kok nggak baca sesuatu? Itu kan waktu yang berharga untuk diisi pengetahuan atau hiburan kalau yang dibaca majalah hiburan atau buku cerita? Saya juga suka heran, lha wong disebelahnya ada mahasiswa-mahasiswa lain, kok ya bisa to diam-diaman, nggak ngobrol ngalor ngidul? Mbok ya bakat-bakat jurnalismenya dikeluarkan? Pada setiap orang itu kan pasti ada hal-hal yang menarik, saya tahu pasti bahwa setiap penerima bea siswa ICAC mempunyai latar belakang dan pengalaman yang menarik. Lha wong saya mewawancarai mereka kok. Lha mbok saling tukar menukar pengalaman, kan jadi memeperkaya hidup kita sendiri. Waduh, bu Sri ini nglanturnya entah sudah kemana, wong ceritanya tentang acara yang terlambat kok. Saya cuma merasa, kalau saya yang ngundang rasanya risi, tamu-tamu sudah datang tapi saya belum nongol. Sepertinya tamu-tamu ini kelasnya di bawah saya. Kan saya yang menentukan waktunya. Beberapa kali saya pernah diundang resepsi ke kediaman  duta besar Amerika, juga pernah ke kediaman duta besar Belanda, pernah juga duta besar Rusia. Hal yang berkesan untuk saya adalah ketika para tamu datang, duta besar  beserta istri berdiri dipintu untuk menyambut setiap tamu yang datang dan ngobrol sedikit.  Saya merasa dihargai, tidak diperlakukan lebih rendah dari pada mereka walaupun status sosial saya mungkin  ada di bawah mereka. 

TALK TO THE TOP.

21 Agustus 2002

 Odette  dan Denette hanya di Jakarta sampai minggu ini. Selasa sore ini kami mengantarkan Denette ke airport dan Rabu sore ini akan mengantar Odette ke airport juga. Sebagaimana ibu-ibu lain, tentu saja perpisahan ini terasa berat. Entah berapa kali saya melepaskan keberangkatan anak-anak dan menyambut kedatangan anak-anak yang terbang tinggi jauh di awan ke ataupun dari dunia di sebelah sana, bepergian, seorang diri di perjalanan. Banyak tantangan yang harus dihadapi sendiri, tanpa pak Denny atau saya bisa campur tangan. Saya harus dengan jujur menyatakan kebanggaan melihat mereka mengatasi tantangan ini. Bayangkan saja, Denette yang waktu itu masih berumur 19 tahun, pulang ke Jakarta dari Philadelphia, via Newark untuk ganti pesawat, Singapore Airlines (SIA) via Singapore. Lha kok ya pesawatnya yang mestinya berangkat dari Philadelphia dicancel setelah sebelumnya diumumkan pesawat terlambat berangkat, padahal nunggunya sudah lama. Kemudian Denette dan rekan-rekan seperjalanan diangkut pakai bis menuju Newark, dan sudah sangat terlambat. Sampai Newark pesawat sudah berangkat. Denette ke counter SIA untuk menanyakan penerbangan selanjutnya. Ternyata 5 hari lagi!!??!  Gila!!!  Padahal dia pegang uang sangat sedikit, di Newark tidak ada seorangpun yang dia kenal, sementara saya menunggu dia di Singapore dan pak Denny opname di rumah sakit karena demam berdarah. Dia coba telephone ke rumah tidak ada kami; dia kaget mendengar ayahnya di rumah sakit. Sementara itu dia tidak bisa menghubungi saya di Singapore. Karena tidak bisa menunggu pesawat Singapore Airlines 5 hari lagi, dia berusaha keras untuk dapat pesawat lain yang secepatnya. Sesungguhnya tidak bisa, paling tidak begitulah kata petugas yang di counter. Tapi Denette tidak menyerah. Dia temui pimpinan SIA di airport yang menjadi pemegang keputusan yang akhirnya mengizinkan Denette untuk pakai pesawat dari penerbangan lain, berangkat sehari setelah ketinggalan pesawat. Odette juga pernah mengalami tantangan yang serupa tapi tak sama, waktu itu berumur 20 tahun. Dia terbang dari Boston ke Madison via Detroit untuk menghadiri pesta wisuda SMU-nya Annette (anak kedua yang sekarang di Amerika dan sebentar lagi ke Paris untuk belajar dan mengajar). Karena badai yang sangat keras di Boston, pesawat terlambat berangkat dan terlambat sampai Detroit, sekitar jam 11 malam, padahal mestinya sampai Madison jam 11 malam.

 

Airline tidak mau memberikan voucher untuk bermalam di hotel serta untuk naik taksi karena keterlambatan ini disebabkan oleh cuaca. Begitulah kata petugas di counter. Tapi Odette tidak mau menyerah. Dia temui supervisor dan supervisornya lagi, pokoknya penanggung jawab tertinggi yang ada disitu sampai akhirnya dapat voucher untuk naik taksi, nginep di hotel termasuk breakfast. Dia mengajukan argumentasi bahwa she is a young girl, a student, nggak punya uang, nggak kenal siapa-siapa di Detroit, apa lagi di tengah malam, masak airlinenya nggak mau tanggung jawab? Annette juga punya tantangan yang lain lagi sehubungan dengan airlines karena peraturan mereka yang begitu kaku kalau kamu beli tiket pesawat yang murah. Soalnya kalau tiketnya memberikan kamu kemudahan harganya sangat mahal, bisa 3 x lipat harga tiket "murah". Sama saja, mesti bicara langsung sama supervisor untuk mendapatkan reroute. Sesungguhnya saya malu menceriterakan pengalaman anak-anak saya tersebut diatas, tapi dengan tulus saya ingin membagi pengalaman ini sebab siapa tahu ada faedahnya.

Saya jadi ingat waktu saya di Boston bulan Mei-Juni yang lalu. Saya baca seruan untuk "talk to the top", pengalaman yang pernah saya ceriterakan di ICACERS. Memang begitulah kebudayaan Barat yang saya lihat. Kalau penjelasan atau keputusan yang diberikan oleh petugas di tingkat bawah tidak memuaskan, mereka dibiasakan untuk tidak segan-segan untuk bicara pada tingakat yang lebih tinggi sampai akhirnya mendapat jawaban yang memuaskan.  Mereka tidak begitu saja terima atau "nrimo" kata orang Jawa. Demikian juga kalau ada complaint. Memang sih enaknya, pejabat tingginya juga biasa-biasa saja, tidak (terlalu) sulit untuk ditemui. Mereka juga punya sikap sebagai "abdi masyarakat" atau penjual jasa yang memperlakukan customer sebagai raja karena katanya pembeli adalah raja. Sementara itu sikap untuk berani, termasuk berani menyatakan pendapat yang berbeda sudah dididik sejak kecil, termasuk oleh guru-guru yang melatih anak-anak untuk berargumentasi. Kalau kamu belum punya keberanian seperti itu, mbok ya jangan takut-takut mempertanyakan suatu peraturan yang menurut kamu tidak bijaksana? Kamu bisa lakukan itu baik sebagai individu atau melalui organisasi kamu.  Eh, saya jangan dituduh jadi provokator ya?  Yang penting sampaikan secara rasional jangan emosional. Mungkin saja tujuan kamu tidak berhasil, tapi suara kamu kan sudah didengar. Kamu juga bisa melihat masalah ini dari kaca mata orang lain. Wah, jadi ingat waktu ke Jogya naik mobil dari Jakarta sekian puluh tahun yang lalu, Odette saja masih klas 5 SD. Dengan senang hati Odette dan adik-adiknya berlari-lari menjalankan tugas ke resepsionis beberapa hotel untuk menanyakan harga kamar, sementara bapak-ibunya kecapean menunggu di mobil. Soalnya cari yang cocok, bagus bersih tapi murah. Yang ini ceritanya dalam rangka melatih anak-anak berani untuk bertanya.


 

Not just a dog

in the remembrance of Joy

 28 Oktober 2004

 

The Embrace

 

By Cynthia Testerman

Laurel, Maryland

 

Do not weep for me,

I've never really gone

I am there by your side

to keep you safe from harm.

 

Do not weep for me,

for what you do not see

My world is far better

Than yours could ever be.

Your tears are like the rain drops

that fall from the heaven above

Gently raining down

on all things that you love.

So when you think of me

put a smile upon your face

Remember me with love,

laughter, and grace.

Knowing, I wait for you,

In God's loving embrace.

 


 

Anak-anakku,

 

Dari semua yang dicintainya..... manusia harus siap untuk berpisah.........

 

With so much love and so many kisses,

 

Mom


Di atas ini adalah email yang baru saya kirimkan untuk Odette, Annette dan Denette yang sedang berduka.

 Kamu yang sudah pernah ke rumah saya di Cilandak dulu tentu kenal dan mungkin malah punya kenangan tersendiri dengan Joy, anjing kami yang setia menemani kami dalam suka dan duka selama lebih dari 14 tahun. Bagi kami, Joy bukanlah sekedar seekor anjing, tapi merupakan anggota keluarga kami. Karena itulah dia kami bawa pindah ke Amerika karena rasanya tidak bisa meninggalkan dia di tanah air, sesuatu yang sempat membuat "iri" beberapa di antara kamu.

Sejak hari Senen yang lalu, setiap saya pulang kerja, saya istirahat dan bekerja di ruang TV yang ada di bawah tanah untuk bersama Joy yang tidak mau ke atas lagi. Perasaan saya mengatakan bahwa Joy tidak akan lama lagi hidup bersama kami. Hal ini menimbulkan kesedihan yang mendalam. Joy tua, kalau diumpamakan manusia sudah berumur sekitar 97 tahun (benar mas dan mbak drh?) sudah tidak mau makan dan minum, kecuali sedikit air putih yang diberikan dari tangan pak Denny. Sesungguhnya sudah sejak awal Januari dia sakit dan mendapat berbagai obat-obatan dari dokter hewan, termasuk anti biotik yang harus dimakan seumur hidup. Waktu itu kami curiga karena mulutnya bau sekali. Setelah diperiksa oleh dokter, ketahuanlah bahwa selama di Jakarta, kesehatan mulutnya tidak pernah mendapat perhatian dan perawatan dari dokter hewan yang sangat baik dan cantik (kebetulan lulusan Eropa) yang merawat Joy sehingga waktu kami sadar, keadaannya sudah parah. Terpaksa sebagian besar giginya dicabut. Terjadi komplikasi, sampai luka, bernanah dan lama-lama mulut sebelah kanan robek besar sekali. Saya merasa sangat berdosa karena kelalaian saya, anjing saya menjadi cacat selamanya walaupun dulu Joy diperiksa di Jakarta secara teratur. Saya menceritakan pengalaman pahit ini dengan harapan dapat menjadi pelajaran bagi kamu yang sudah menjadi dan akan menjadi dokter hewan serta para ahli peternakan.

Sampai tadi malam  walaupun dengan pernafasan yang nampaknya berat, Joy masih bersama kami. Tengah malam kami naik keatas untuk tidur. Tadi pagi, setelah berpakaian untuk pergi bekerja, pak Denny turun ke basement duluan. Cari Joy. Tidak ada. Dia buka pintu yang menuju ke halaman belakang. Di depan pintu itulah Joy teridur untuk selamanya........... 

Seperti kebanyakan orang Indonesia lainnya, dulu saya paling takut sama anjing. Pernah waktu masih klas 3 atau 4 di Sekolah Rakyat Magelang dulu, saya berjalan-jalan bersama teman-teman dan 3 orang adik-adik saya di suatu kampung dekat kompleks militer dimana kami tinggal. Tiba-tiba ada beberapa anjing menggonggong. Karena ketakutan kami lari.


 

Anjing-anjing itu terus mengejar kami, kami berteriak menangis dan berjatuhan. Setelah menikah, pada waktu saya mengunjungi teman-teman atau ipar-ipar yang mempunyai anjing, saya masih takut pada anjing sehingga mereka terpaksa mengisolasi anjing mereka supaya saya tidak merasa terganggu. Saya sering heran, mengapa orang kok bisa ngobrol tentang anjing selama berjam-jam, padahal anjing kan anjing. Mata saya terbuka ketika kami mempunyai seekor anjing kecil yang lucu, yang kami beri nama Joy (because she is a great Joy) setelah anak-anak saya berhasil meyakinkan saya, kemudian pak Denny, untuk memelihara anjing. Saya melihat anjing, bukan hanya sebagai teman yang setia yang menghibur dimasa suka dan duka, tapi juga teman bermain dan "stress reliever". Mata saya menjadi lebih terbuka lagi setelah saya pindah ke Amerika, melihat perlakuan yang diberikan oleh masyarakat dan pemerintah terhadap anjing (dan kucing serta binatang piaraan lainnya). Binatang-binantang ini, terutama anjing dan kucing diperlakukan dengan sangat manusiawi. Kalau kamu kehilangan anjing, kamu bisa langsung menghubungi polisi minta bantuan mencarikan anjing yang hilang. Kalau kamu melihat ada anjing yang diperlakukan dengan kejam, kamu juga diharapkan untuk lapor pada polisi. Hal ini termasuk pada waktu musim panas dan suhu sangat tinggi (saya lupa ketentuannya berapa derajat), kamu dilarang keras meninggalkan anjing di dalam mobil yang terutup di tempat parkir. Kalau kamu melanggar, kamu dikenai denda yang sangat tinggi. Kalau kamu melihat anjing sendirian di mobil yang ada di tempat parkir padahal suhu udara tinggi, kamu juga diminta untuk melaporkan hal ini pada yang berwewenang. Dari iklan-iklan dan buku kecil yang diterbitkan oleh perkumpulan penyayang binatang, kamu bisa melihat berbagai jasa pelayanan yang ditawarkan untuk anjing, termasuk dogsitting (berarti menjaga dan merawat anjing waktu pemiliknya pergi), olah raga air, pelayanan kematian termasuk kremasi khusus untuk binatang, dan fasilitas-fasilitas perawatan kesehatan yang sangat mahal, mewah, maju sekali dan harganya tidak lebih murah dari pada perawatan kesehatan untuk manusia (yang umumnya tidak mampu membayar karena banyak sekali yang tidak punya asuransi kesehatan). Dalam hal ini termasuk fasilitas untuk operasi, mesin X-Ray dan CT-scan yang kata artikel yang saya baca layak untuk dipakai oleh seorang presiden sekalipun, serta transplant organ tubuh. Di koran ada berita duka cita atas kepergian seekor anjing, dengan kata-kata yang positif, yakni mengenang masa-masa bahagia bersama anjing kesayangannya. Pada waktu membawa anjing berjalan-jalan, sering kali orang-orang yang lewat memberikan sapaan ramah kepada anjing yang lucu, seperti orang-orang menyapa anak-anak kecil yang lucu.

Sering kali saya merasa terharu melihat seekor anjing yang besar dan bersih, yang dengan setianya membimbing pemiliknya yang buta, naik turun bis umum dan kereta bawah tanah, berangkat dan pulang bekerja serta bepergian entah kemana, termasuk jalan kaki melewati dan menyeberangi jalan ramai. Anjing-anjing ini sebelumnya dilatih oleh para volunteer untuk bisa membantu orang-orang buta. Saya juga mendengar adanya anjing-anjing yang dilatih untuk ikut berperang. Mereka mendapat pangkat "Sersan" dalam suatu upacara serta kontrak kerja selama setahun (kalau tidak salah). Kontrak kerja ini bisa diperpanjang. Setelah tua atau tidak berdaya, "sersan" ini dipensiun dengan hormat. Biasanya anjing-anjing pensiunan tentara ini diambil dan dirawat oleh tentara yang sebelumnya bertugas dengan dibantu oleh anjing itu.

Ah......  sebetulnya sudah lama sekali saya ingin berbagi cerita tentang anjing-anjing di Amerika. Sayang selama ini tidak sempat. Kepergian Joy the doggie membuat saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Mohon maaf kalau tidak berkenan karena cerita ini mungkin tidak saya sampaikan pada waktu yang tepat. Tidak ada maksud sama sekali untuk tidak menghormati yang sedang berpuasa.




TARADISI TARADISI

Dan seandainya aku mati di tiang gantungan

Tiada seorangpun yang menangisi mayatku yang bersimbah darah

Tidak juga kau

Aku ini binatang jalang

Yang terbuang dari kumpulannya…..

 Puncak, 12 Agustus 2002.

(Petikan sajak Chairil Anwar). 

“Sri, kowe kuwi wong  Njowo sing wis ilang Jawane”.  Bagi kamu yang non Jawa, terjemahannya adalah “Sri, kamu itu orang Jawa yang sudah ilang Jawanya”.  Kata-kata itu pernah diucapkan oleh ayah saya, yang merupakan ekspresi dari kekecewaan beliau  karena banyaknya kewajiban sosial yang tidak saya lakukan. Ada benarnya kata-kata beliau walaupun tidak sepenuhnya karena pada saat-saat tertentu ke Jawa-an saya keluar.

 Dulu saya merasa paling stress pada waktu lebaran. Sekarang sudah jauh berkurang karena tidak begitu saya pedulikan kewajiban sosial  yang mengharuskan saya mengunjungi saudara-saudara yang lebih tua, yang kadang-kadang telah bertahun-tahun tak jumpa, walaupun urutannya bagaimana saya sudah tidak tahu lagi. Paling banter saya menghadiri acara silaturahmi keluarga besar. Soalnya saya takut berbuat salah karena walaupun banyak yang maju, kebanyakan masih berpikir tradisionil dan mudah tersinggung. Pada waktu ketemu mereka, paling-paling cuma saling menyapa basa-basi :”apa khabar?”. “Baik”. “Anak-anak sekarang sudah besar-besar ya?” “Ya”. “Dimana sekarang?”. “Di Amerika”, dsb. Kemudian “silahkan diminum, silahkan dimakan” – dan minum makanlah kita sambil nonton TV. Alangkah membosankan. Mendingan waktunya buat bersantai dengan para sahabat atau sama kamu yang betul-betul bisa dinikmati, dimana kita bisa berbagi cerita tanpa prasangka.

   

 

Dulu pernah, saya berbagi cerita tentang pengalaman saya dalam perjalanan atau waktu tinggal di luar negeri. Eh, tahu-tahu ada suara yang mengatakan bahwa saya suka membanding-bandingkan Amerika dengan Indonesia. Padahal saya cuma mau berbagi pengalaman. Kalau ada hal-hal yang bagus dan bisa dicontoh untuk kemajuan kita, kenapa tidak? Anggota-anggota DPR saja sering melakukan perjalanan ke manca negara untuk studi banding. Wawasan kita menjadi terbuka justru karena kita mendengar dan melihat apa yang terjadi di negara-negara lain. Pernah saya datang ke suatu acara halal bihalal keluarga besar dari Kebumen. Ada seorang paman berpidato lama sekali tidak selesai-selesai, sementara para pendengar sudah pada bosan dan anak-anak pada restless. Akhirnya saya memberanikan diri memberikan tanda untuk memotong pidatonya itu. Benar saja, sekitar sebulan kemudian ada yang menyampaikan komentar ke ayah saya, “Oom, dik Sri itu sudah seperti orang Amerika betul ya?”  Sejak itu saya belum lagi join mereka.

Sering kali karena tradisi orang sampai utang untuk mantu misalnya, padahal sebetulnya tidak mampu bikin pesta perkawinan.   Adalagi tradisi yang expect kita bawa oleh-oleh kalau pulang dari tempat jauh, apalagi luar negeri. Dulu saya paling pusing dan stress kalau mau kembali ke tanah air. Soalnya harga-harga disana muahalnya bukan main, uang terbatas, berat barang yang boleh dibawa terbang juga terbatas, sementara itu saya punya keluarga besar termasuk pakde-bude-paman-bibi-saudara-saudara sepupu dan lain-lain. Sekarang enggak lagi. Habis kalau memang tidak mampu, bagaimana lagi? Sayangnya banyak orang Indonesia yang memaksakan diri untuk melakukan kewajiban sosial yang menghabiskan uang banyak, padahal sesungguhnya tidak mampu.  Habis dari pada diomongin orang lain sih – takut dibilang pelit. Jadinya untuk memenuhi kewajiban sosial ini banyak yang sampai korupsi segala. Tradisi itu bagus, tapi mbok ya disesuaikan dengan keadaan. Jepang itu lho, patut ditiru. Masih menjaga tradisi, tapi tetap bisa maju. Kali ini bu Sri membandingkan Indonesia sama Jepang ya? Eh, tulisan ini kok jadi nglambrang nggak karuan sih?