Sri Lienau's page (1)     for page (2) click here

  Before moving to the US in June 2003, Sri left valuable messages to the scholarship award recipients, compiled in a humble book called  "Pesan Kanjeng Ibu."

It has many articles about various  aspects of life, such as commitment, credibility, integrity, assertiveness, and even marriage.  The articles were written based on her experiences, often after students or alums asked for her advice either about studying, organizational skills, or love and other personal issues.

Sri hopes the experience she shared can inspire future, current, and former scholarship recipients to broaden their minds, and encourage them to make a difference in Indonesia.

Now, living with her husband in Vienna, just outside Washington D.C., Sri still writes to the students and alumni through our Goodwill mailing list, with the same intention. Because of the positive feedback, and because new students may not get the special book mentioned above, it was decided to have Sri's articles included on this page, so that anyone interested can read them any time, anywhere, simply by clicking the Goodwill International website.

Jakarta  -  January 2005

 
 

Pesan Kanjeng Ibu kepada putra-putrinya   Mother’s message for her sons and daughters
Jakarta, 11 Januari 2003   Jakarta, 11 Januari 2003

Anak-anakku

Aku akan pergi

Tiada yang bisa aku tinggalkan

kecuali seuntai mutiara untuk engkau renungkan di dalam hati

 

Jadilah engkau satria perkasa

seperti Raden Gatutkaca dan Dewi Srikandi

yang tabah menghadapi segala tantangan

dan kuat menghadapi segala godaan

Berani menyuarakan kebenaran

dan memperjuangkan keadilan

Jangan engkau menyerah

walaupun menghadapi bermacam-macam rintangan

Sebarkan perdamaian, senyum dan kasih sayang

Kesulitan hidup janganlah engkau lihat sebagai kutukan Tuhan

tapi lihatlah sebagai karuniaNya

Karena kasihNya

Tuhan menguji engkau agar menjadi manusia yang kuat dan bijaksana

 

Anak-anakku

Engkau adalah harapan masa depan

Engkau masih muda

Jalan yang engkau lalui masih panjang dan berliku

Bersyukurlah pada Tuhan dan banggalah pada diri sendiri

atas apa yang telah engkau capai selama ini

Jangan takut hari esok

Tuhan dan doa restu orang tua selalu menyertaimu

 

Anak-anakku

Walaupun aku tidak lagi bersamamu

engkau akan selalu ada dalam ingatanku

karena engkau telah meninggalkan telapak kaki yang membekas di hatiku

Terima kasih atas cinta dan kebahagiaan yang engkau berikan

Terima kasih, engkau mengizinkan aku singgah dihatimu

Terima kasih, engkau telah membuat aku begitu bangga padamu

Aku bersyukur kepada Tuhan

karena kehadiranmu adalah karunia untukku

 

Anak-anakku

Terimalah cinta kasih dan doa restuku

 

 

 

My children

I am leaving

There is nothing I can give you

except a chain of pearls for you to keep in your heart

 

Be strong knights

like Raden Gatotkaca and Dewi Srikandi

who are tough facing all challenges

and strong facing all temptations

Be brave to voice the truth

and fight for justice

Don’t you ever give up

even though you face many obstacles

Spread peace, smile and love

Be the first one offer the hand of friendship

Don’t see life difficulty as God’s condemnation

but see is as His blessing

Because of His love

God gives you trial so that you become a strong and wise person

 

My children

You are the hope of the future

You are still young

You still have to go through a long and winding road

Be thankful to God and be proud of yourselves

for what you have achieved so far

Don’t be afraid of tomorrow

God and your parents’prayers are always with you

 

My children

even though I am not with you anymore

you will always be in my mind

because you have left foot prints in my heart

Thank you for the love and happiness you have given me

Thank you for letting me passing to your heart

Thank you, you have made me proud of you

I am thankful to God

because your presence is His gift for me

 

 

 

My children

Accept my love and prayer

With God’s will, we will meet again.

 

 


 

BAHAN PENULISAN CV - Juli 2002

 

Kalian masih pada libur kan? Kalau iya, selamat berlibur. Gunakan sebagian waktu kamu untuk membahagiakan orang lain dengan kerja bakti alias kerja sosial alias volunteer work alias community service.  Dengan membahagiakan orang lain, kebahagiaan kamu juga pasti bertambah. Saya sendiri sudah ngrasain kok :) Gunakan lagi sebagian waktu kamu untuk berkuli, dimana saja, jangan malu-malu karena jaga gengsi. Yang penting dapat pengalaman dan uang yang walaupun sedikit ada gunanya. Kalau perlu jadi kuli pasarpun boleh. Kamu mungkin bisa ke Pasar Induk, memilah-milahkan sayur-sayuran yang segar dari yang busuk-busuk, wong saya saja ingin kok nyoba-nyoba, cuma kapan waktunya ya? Atau jadi kondektur juga boleh, tapi uang jangan dikorup.  Jadi tukang sapu atau bekerja di cleaning service membersihkan toilet juga ok, atau mungkin tukang cuci piring di warteg. Kehidupan kamu akan bertambah kaya justru karena kamu bekerja di tempat-tempat seperti itu, membaur dengan mereka, orang-orang sebangsa setanah air yang ingin kamu bantu, kamu entaskan dari kemiskinan.
 

Percayalah, harga diri kamu tidak dilihat dari rendah atau tingginya tingkat pekerjaan kamu, tapi terletak pada kredibititas kamu, pada kepribadian kamu, pada kejujuran kamu.  Dengan perasaan bangga, setelah lulus nanti ketika kamu melamar pekerjaan, cantumkan pengalaman kerja di pasar atau warteg.


Tunjukkan bahwa kamu adalah orang muda yang dinamis dan energetik, tahan menghadapi bantingan, dengan gembira menghadapi tantangan, justru mencari tantangan, untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik lagi. Bagi yang bahasa Inggrisnya masih belum cas-cis-cus, mengikuti training yang diberikan dalam bahasa Inggris merupakan suatu tantangan tersendiri. Jangan sekali-kali kamu lari dari tantangan ini. Berusahalah untuk mengerti, jangan segan-segan untuk bertanya, aktif berpartisipasi walaupun grammar kamu amburadul. Yang penting kamu bisa berkomunikasi. Kalau kamu dapat bea siswa dari ICAC, berarti kamu dianggap bisa mengikuti training ICAC. Kalau kamu benar-benar ingin maju, jangan gentar. Ikuti terus. Kalau kamu melarikan diri berarti kamu kalah sebelum berperang. Belum ketemu musuh, yaitu bahasa Inggris, sudah lari duluan. Kalau mental kamu seperti itu, bagaimana nasib masa depan negara dan bangsa kita yang tercinta?
 

 

BAU BADAN-  2 Oktober 2001

 

Beberapa hari yang lalu, mbak Rosa dan saya  didatangi oleh seorang ibu Narni yang menggendong bayi berumur 5 bulan dan wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.  Bayi ini mempunyai 3 orang kakak yang berumur 21,  19, 16  dan 2 tahun. Saya kaget sekali mengetahui bahwa ibu Narni sudah mempunyai seorang cucu karena anaknya yang berumur 21 tahun sudah menikah dan mempunyai anak padahal ibu ini masih kelihatan muda, sekitar 35 tahun. Bu Narni tinggal bersama anak-anak dan suaminya disebuah gudang  karena disana dia tidak perlu membayar uang sewa. Suaminya seorang Satpam dengan penghasilan Rp 300,000 sebulan. Kedatangannya ke ICAC adalah untuk minta bea siswa bagi anaknya yang berumur 16, Novita, dan baru masuk SMU. Dia membawa surat keterangan tidak mampu dari lurah dan surat dari sekolah yang menyatakan bahwa Novita  sama sekali  belum membayar uang muka maupun SPP sejak masuk bulan Juli .

Hampir saja bu Narni berputus asa dan menyuruh Novita meninggalkan bangku sekolah karena kepala sekolah mengatakan bahwa kalau belum membayar uang sekolah sama sekali sampai hari Sabtu nanti , Novita tidak boleh ikut test. Singkat kata, perjuangan bu Narni untuk mendapatkan bea siswa bagi  anaknya berhasil. Ya, habis, bayangin aja. Masak tega sih? Bu Narni bilang, saking susahnya hidup, kadang-kadang dia nggak makan hari Sabtu, padahal anaknya masih menyusui Disamping itu masih ada lagi anaknya yang balita. Tapi ya itu…….  Bau badannya nggak kuaaattttttttt deh………… sampai pintu ruangan terpaksa harus dibuka. Mana saat itu  ada teman saya lagi,  Dalam hati saya berharap semoga hanya hidung saya yang salah cium walaupun saya lihat mbak Rosa minggirin kursi supaya tidak terlalu dekat karena dia saya mintain bantuan untuk menginterview bu Narni. Saya juga berharap  semoga teman saya lagi nggak enak badan supaya penciumannya tidak  berfungsi dengan baik.  Untungnya teman saya segera pamit dan saya mengantar keluar. Tinggallah mbak Rosa menghadapi  bu Narni sendiri.  Sesudah bu Narni pergi mengeluhlah mbak Rosa pada saya.   “Aduh ibu…….  itu bau minta ampun deh!!”.  Terus saya bilang, “Yah, kamu harus  maklum dong. Buat makan saja susah, gimana bisa beli deodorant?”. Terus mbak Rosa memberikan pendapat:  ” Nggak usah beli deodorant. Itu di pasar ada kan kapur sirih atau apa lagi yang lainnya. Bisa dipakai untuk  menghilangkan bau badan.

Harganya murah sekali, pasti bisa kebeli dong! Kalau perlu ibu beliin aja untuk pertama kali”.  Saya pikir, memang betul juga kata mbak Rosa. Lagi pula sepanda-pandai apapun kita juga harus memperhatikan penampilan kita karena itu akan memberikan kesan kepada lawan bicara. Bayangin aja kalau kamu menjadi seorang marketing manager atau  pejabat hubungan  masyarakat yang harus mempromosikan suatu produk. Boleh saja kamu menguasai bidang tersebut tapi kalau badan kamu bau dan mulut kamu bau ya tetap saja tidak dapat client karena clientnya sudah pergi duluan.  Mbak Pini sendiri pernah punya pengalaman dengan salah seorang staffnya yang  mengalami problem bau badan. Staff tersebut pintar sekali tetapi tidak pernah berhasil menjual produk perusahaan.  Maksud cerita ini bukan untuk menjelekkan bu  Narni, tapi untuk mengingatkan kamu sebagai calon manager, pejabat, pimpinan, dsb dsb untuk juga memperhatikan penampilan. Tidak harus bermake up tebal, tapi yang penting bersih. Menurut kamu, apa yang akan kamu lakukan bila kamu dihadapkan pada situasi seperti itu?

 


 

COMMITMENT

 

29 Oktober 2001

 

Waktu ICAC masih berlokasi di Kemang, jadi sebelum  pindah ke Lebak Bulus pada awal 1999, jabatan resmi saya adalah Volunteer and Social Services Coordinator. Dengan demikian disamping program-program pelayanan sosial untuk masyarakat Indonesia, saya juga bertanggung jawab atas volunteer program di ICAC. Waktu itu saya sibuk sekali dengan banyaknya volunteer-volunteer ICAC yang pernah sampai berjumlah 150 orang. Volunteer-volunteer yang pada umumnya orang asing itu bekerja bukan hanya membantu semua departemen-departemen di ICAC yang waktu itu sibuk sekali, tapi juga di berbagai yayasan maupun panti-panti di Jakarta.  Maklum masih banyak sekali orang asing  sebelum krisis ekonomi memukul negara kita tanpa ampun. Tanggung jawab atas volunteer saya lepaskan karena kesibukan saya dengan program bea siswa kita sewaktu ICAC pindah ke Lebak Bulus, sementara jumlah volunteer ICAC menurun dengan sangat drastisnya.  Menurut pengalaman dan pengamatan teman-teman saya (baik orang asing maupun orang Indonesia) dan saya, satu hal yang sangat menyolok yang membedakan antara volunteer-volunteer asing dan volunteer-volunteer Indonesia adalah tingkat commitmentnya. 

 

 


 

 Sangatlah sukar sekali mendapatkan orang Indonesia yang kuat memegang commitment seperti orang-orang asing. Ada saja alasan yang nampaknya dibuat-buat, yang oleh orang Barat disebut sebagai “excuse”. Hal ini juga merupakan salah satu keluhan yang disampaikan oleh teman-teman saya dari Barat  yang mencoba membantu berbagai yayasan di Jakarta. Pernah saya memberikan tugas kepada seorang ibu Indonesia yang  melamar untuk jadi volunteer .  Kita sebut saja ibu Siti. Ibu Siti ini berpendidikan tinggi, bisa bahasa Inggris serta bisa menjahit. Beliau saya tugaskan untuk memimpin sekian orang volunteer asing memberikan kursus kepada para ex wanita tuna susila di panti rehabilitasi WTS.Dengan sangat antusiasnya beliau menyanggupi. Saya aturlah segalanya, termasuk koordinasi waktu, penyediaan bahan-bahan, dsb.  Volunteer-volunteer asingnya dan para ex WTS serta pimpinan panti menunggu tanggal dimulai. Dengan berbagai alasan ternyata ditunda dan ditunda lagi dan ditunda lagi sama ibu Siti. Akhirnya saya merasa bahwa dia tidak bermaksud untuk  memenuhi commitmentnya. Karena volunteer-volunteer asing yang mau membantu nggak ada yang bisa bahasa Indonesia, akhirnya program ini gagal total, tidak jadi diadakan.  Kamu bisa enggak membayangkan betapa besar kekecewaan sekian banyak orang hanya karena ibu Siti  yang tidak memegang commitmentnya.  Ada juga sih orang-orang Indonesia yang mengerjakan tugas sebagai volunteer, tapi kok ya sering kali “anget-anget tai ayam”.  Kenapa sih kita nggak bisa mencontoh orang-orang Barat dalam memegang commitment mereka?  Coba saja lihat betapa banyak usaha-usaha mereka yang sangat sukses, baik pengumpulan dana, acara kesenian dan olah raga, seminar atau lain-lain, karena adanya suatu team work yang begitu baik dari segenap pengurus yang didukung oleh anggota-anggotanya.

 

 


 

Mereka bukan sekedar mengkritik, berargumentasi, tapi juga membantu dan bekerja sama.  Mereka sangat dedikatif, committed, hati-hati sekali menjaga nama baik, sebab kalau sampai mengajukan diri untuk bekerja, baik sebagai anggota biasa ataupun sebagai pengurus, tapi tidak memenuhi commitment, jatuhlah namanya. Jangan harap orang masih percaya sama dia. Makanya kalau nggak sanggup untuk pegang commitment lebih baik terus terang saja, tapi jangan mengatakan sanggup, terus menghilang bagai ditelan bumi. Hal itu bukan hanya menghancurkan kredibilitas diri sendiri, tapi yang lebih tidak bisa diterima adalah merugikan orang-orang lainnya.  Makanya saya sedih dan kecewa sekali melihat mahasiswa-mahasiswa yang tidak memenuhi commitment mereka. Padahal MAHASISWA adalah harapan masa depan bangsa yang seyogyanya harus berpikir kreatif, inovatif, bermoral dan lebih bertanggung jawab dibanding mereka yang bukan mahasiswa. Kalau mereka saja nggak bisa diandalkan, apa nggak makin rusak bangsa kita ini? Mbok ya belajarlah dari sekarang. Disiplin dan pegang commitment. Untuk kepentingan mereka sendiri, untuk negara kita, dan kalau boleh juga untuk saya yang ngecap-ngecap mengatakan betapa hebatnya mahasiswa-mahasiswa penerima bea siswa ICAC yang mengakibatkan mengalirnya dana bea siswa untuk mahasiswa-mahasiswa itu sendiri.  Mbok ya yang “tepo saliro”, put your self in some body else’s shoe, yang punya “empathy”, berarti bisa mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain tanpa kecenderungan untuk mengadili orang lain tersebut. Apakah keinginan saya bisa terpenuhi? 

Catatan : cerita ini saya sampaikan dengan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada para mahasiswa maupun alumni yang bertanggung jawab, berdedikasi tinggi dan berpegang teguh pada commitment mereka.

 


GENGSI ITU MAHAL HARGANYA

 

Sangat terbuka kemungkinan bahwa sekian tahun dari sekarang kamu akan mempunyai kesempatan membeli barang-barang import bermerek yang suangat muahal, seperti baju, tas dan sepatu yang harganya jut-jut-an, yang cukup untuk membiayai pendidikan sekian orang mahasiswa dalam satu tahun. Tapi kalaupun kamu mampu melakukan hal itu, walau dengan hasil jerih payah yang kamu dapatkan secara jujur, apakah akan kamu lakukan juga? Saya menulis hal ini karena ingat pada volunteer-volunteer ICAC sekian tahun yang lalu, yang membantu saya di toko dan perpustakaan. Mereka datang dari Barat, tentu saja negara kaya. Banyak di antara suami mereka yang menjadi pimpinan perusahaan terkenal. Tentu saja penghasilan suami mereka seabrek-abrek besarnya, jauh lebih besar dari yang diterima oleh Mr. Lienau yang sudah dianggap besar sekali oleh sebagian besar sekali orang Indonesia hanya karena judulnya bergaji dollar, padahal pengeluaran keluarga sebagian besar juga dalam dollar.

But that’s not the point. The point is……   saya merasa sangat terkesan oleh ibu-ibu itu yang dengan gembira dan bangganya menggunakan tas dan dompet buatan Indonesia, kadang-kadang malah buatan yayasan seperti yang dijual di tokonya ICAC. Hal ini sangat berbeda dengan beberapa (atau banyak???)  bawahan suami-suami mereka yang mementingkan barang-barang bermerek walaupun sesungguhnya mereka kesulitan membayar sampai harus ngutang, dibayar sekian kali setelah gajian. Kenapa sih harus demikian? Sekedar karena gengsikah? Kalau kamu punya uang yang didapat secara jujur dan kamu membeli barang mahal karena memang kamu nikmati, nggak apa-apalah, itu hak kamu. Tapi apa ya perlu menghabiskan uang sekian banyak sekedar untuk jaga gengsi? Supaya dihormati oleh orang lain?

 



Puncak, 11 Agustus 2002

 

Saya melihat bahwa orang yang ngoyo membeli barang-barang yang sesungguhnya di luar kemampuan mereka, atau yang sesungguhnya bisa menggunakan uang berlebih untuk hal-hal yang lebih bermanfaat – dengan Tujuan jaga gengsi, atau supaya dihormati – sesungguhnya adalah orang yang masih mempunyai rasa rendah diri, yang berpikir bahwa gengsi seseorang terletak pada barang yang dia pakai atau jumlah uang yang dia miliki. Alangkah menyedihkan. Gengsi itu mahal harganya. Yang lebih menyedihkan lagi, demi gengsi ini banyak di antara mereka yang tega melakukan korupsi atau memeras orang lain.  Pernah pada suatu hari, adik saya yang lulusan IPB diantar ke rumah saya oleh 2 orang temannya yang juga lulusan IPB jaman kuno. Melihat mobil saya yang bermerek Kijang, teman A berkomentar : “Mbak Sri ini mobilnya kok Cuma Kijang sih?”. Teman B membalas :”Kowe ki ndeso (kamu itu kampungan). Yang penting buat mereka bukan mobilnya, tapi simpanannya di bank”. 

Wah, payah juga, teman B ini tidak tahu bahwa memang kemampuan saya hanya sampai pada Kijang dan saya tidak punya simpanan numpuk di bank.  Saya ceriterakan hal ini karena memang begitulah bagi orang-orang Barat yang saya kenal, mereka tidak perlu bergengsi-gengsi. Makanya kebanyakan orang-orang asing disini pakai Kijang walaupun simpanan mereka numpuk di bank.

Saya sendiri  bersyukur karena tidak peduli dengan barang-barang yang bermerek, yang disamping tidak mampu saya beli juga tidak saya perlukan.

 

     
 

HARGA DIRI DAN KREDIBILITAS  --  Puncak, 11 Agustus 2002

Saya mengenal kamu sebagai mahasiswa yang mempunyai idealisme tinggi. Jagalah idealisme kamu. Jangan sampai luntur oleh materi yang bisa menjerumuskan kamu dan bangsa kita ke lembah yang paling dalam.  Harga diri kamu tidak terletak pada harta yang kamu miliki, tapi terletak pada kepribadian kamu, pada kredibilitas kamu, pada kejujuran kamu. Saya akan jauh lebih bangga jika kelak melihat kamu menjadi pemimpin atau pejabat negara yang tinggal di rumah sederhana, pakai gelas, piring dan mangkok hadiah dari Indomie atau Kecap ABC, dengan mobil sederhana dan buku-buku yang numpuk bekas dan mau dibaca, dari pada melihat kamu menjadi pejabat atau pemimpin negara yang hidup berlimpah-limpah karena kita semua akan tahu bahwa harta itu bukan kamu dapatkan dari orang tua kamu, otherwise semestinya kamu tidak dapat bea siswa ICAC. Atau mungkin saking pinternya kamu mengelabui Pudek III,  ketua jurusan dan ICAC waktu minta bea siswa sehingga kamu sampai lolos? Kalau begitu sayang sekali karena berarti kamu telah terbiasa berbohong sejak mahasiswa. Saya kok jadi ingat Prof. Mr. Soenario, mantan Menteri Luar Negeri serta duta besar di beberapa negara yang juga salah seorang perumus sumpah pemuda, UUD ’45 dan pendiri negara serta penjamin Mr. Lienau sebagai seorang pemuda berkelakuan baik waktu Mr. Lienau melamar saya di tahun ’73. Waktu pertama kali saya berkunjung ke rumah beliau, beliau yang tidak punya pembantu sama sekali,hanya tukang kebun saja, dengan rendah hatinya membawa nampan berisi 3 cangkir teh untuk beliau sendiri, Mr. Lienau dan saya. Beliau tidak punya mobil, sering naik bis, bemo atau sekali-sekali taksi kalau tidak ada yang mengantar jemput. Dengan segala kesederhanaannya, pak Nario adalah seorang yang sangat dihormati sampai akhir hayatnya.

Kembali pada kamu, yang jelas, saya menghargai kamu, bahkan salut pada kamu atas apa yang telah kamu lakukan. Dalam keadaan sulitpun, apalagi banyak di antara kamu yang tidak dapat mengandalkan kiriman dari orang tua, kamu telah membuktikan keberhasilan kamu sebagai seorang mahasiswa berprestasi yang berjiwa besar, yang menjadi pemimpin, membantu sesama. Hal itu menunjukkan bahwa kamu punya potensi yang besar untuk menjadi pemimpin yang baik di masa depan. Itulah sebabnya disamping uang bea siswa kamu juga mendapat leadership training dari ICAC. Itulah pula sebabnya saya cerewet soal commitment kamu yang sayangnya sering mengecewakan. Karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang pegang commitment. Disitu pulalah letak kredibilitas kamu. Sekarang pilihan ada di tangan kamu, mau menjaga harga diri kamu, atau membiarkan harga diri kamu jatuh pecah berkeping-keping?

 
 
 

 

HONOR CODE DAN WELLESLEY COLLEGE

 

 

23 Agustus 2002

 

 

Di banyak perguruan tinggi yang bagus – very fine schools – di Amerika diterapkan suatu kode kehormatan yang disebut sebagai “Honor Code”. Berarti bahwa kalau kamu kuliah di tempat tersebut, otomatis kamu terikat pada “Honor Code”.  Banyak juga perguruan tinggi lain yang memberikan pilihan bagi mahasiswanya, mau menanda tangani pernyataan bahwa dia terikat pada “Honor Code” atau tidak. 

 

 

Yang ditekankan dalam honor code ini adalah kejujuran. Atau kehormatan seseorang terletak pada kejujuran orang itu sendiri. Yang paling tahu tentang kejujuran kamu adalah Tuhan dan diri kamu sendiri. Keistimewaan perguruan-perguruan tinggi tersebut di atas – dimana didalamnya termasuk Harvard University dan Wellesley College dimana Odette dan Annette dulu belajar serta dan Bryn Mawr College dimana Denette sekarang belajar – adalah bahwa mahasiswa-mahasiswa tersebut betul-betul dipercaya atau dirasa dapat dipercaya.  Mereka juga merasa dipercaya dan menjaga kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya. Denette, sebelum kembali ke Amerika mendapat sertifikat dan disertai dengan surat keterangan yang panjang tentang pelajaran tari Bali yang dia terima selama 6 bulan untuk Bryn Mawr College. 

 

 

Sertifikat dan keterangan tersebut akan memberikan nilai bagi Denette. Denette akan menterjemahkan dokumen-dokumen tersebut dengan keyakinan pasti akan dipercaya karena Bryn Mawr College mengikuti Honor Code.  Hal ini membuat saya ingat pada waktu sekitar graduationnya Annette di Wellelsey College pada akhir Mei 2002.

Wellesley College adalah sebuah undergraduate liberal arts school khusus untuk wanita, dengan misi utama untuk memperkuat kemampuan dan posisi wanita. Sekolah ini adalah sekolah elite yang sulit sekali dimasuki, dengan fasilitas yang begitu mewah terutama untuk ukuran kita. Terletak di atas tanah seluas sekian hektar, dengan jumlah mahasiswa sekitar 2500 orang (sebagai perbandingan, Harvard mempunyai sekitar 8000 mahasiswa, sedangkan state university kebanyakan mempunyai mahasiswa sekitar 15,000 orang) yang semuanya mendapat perhatian cukup baik dari para proffesor mereka.
 

 

 Wellesley College didirikan di atas tanah yang berbukit-bukit, dengan pohon-pohonan dan tanam-tanaman bunga disana-sini, dan rumput hijau yang terawat rapi, ada kolam kecil dan danau (di belakang asramanya Annette), serta mempunyai gedung-gedung tua seperti castle - castle (kastil, istana kecil) di Eropa yang digunakan sebagai asrama-asrama. Setiap asrama disebut hall dan masing-masing mempunyai nama. Ada juga sebuah chapel tua dan sebuah menara tinggi seperti dalam dongeng yang digunakan sebagai kantor pimpinan Wellesley College. Wellesley College juga mempunyai lapangan tenis dan kolam renang, science center dengan computernya yang selalu mengikuti kemajuan teknologi, perpustakaan, art museum, bahkan observatory untuk melihat bintang-bintang di planetpun tersedia. Mereka mempunyai fasilitas yang begitu hebat karena banyaknya sumbangan yang diterima dari para alumni terutama yang kaya raya.

Contoh adalah museum dan observatory yang merupakan sumbangan pribadi dari alumni. Besarnya dana bea siswa yang memungkinkan banyaknya mahasiswa-mahasiswa tidak mampu seperti Annette belajar disana juga karena besarnya sumbangan dari para alumni yang sebagian besar waktu mahasiswa dulu juga mendapat bea siswa. Para alumni yang kaya-kaya ini bisa mendapat keringanan pajak yang begitu besar karena   uang yang mestinya dibayarkan untuk pajak disumbangkan untuk charity atau lembaga pendidikan.

Setiap mahasiswa mempunyai Wellesley email address seperti xxxx@wellesley.edu yang selalu bisa dihubungkan dengan internet sepanjang masa tanpa biaya tambahan. Mahasiswa bisa menggunakan sambungan internet berjam-jam tanpa bayar sesenpun karena biayanya sudah ditanggung oleh Wellesley College – seperti juga di Harvard, Bryn Mawr dan lain-lain.

 Mahasiswa bisa berkomunikasi langsung atau menyerahkan paper-paper lewat email. Demikian juga banyak pengumuman yang disampaikan lewat email. Lantai asrama terbuat dari kayu, yang ditutupi carpet di hall (di tempat jalan di luar kamar). Anak-anak tahun ke 2, 3 dan 4 dapat satu kamar untuk satu orang, sedangkan anak-anak tahun pertama harus berbagi kamar dengan 1 anak lainnya. Pintu-pintu dan jendela-jendela serta besi-besinya berukiran, demikian juga kursi-kursi tuanya. Mungkin karena di Amerika mereka nggak percaya pada roh halus atau hantu, kayaknya hal ini tidak pernah dibicarakan.

 

Pada setiap lantai asrama (asramanya Annette terdiri dari 4 lantai) ada kulkas dimana mahasiswa bisa menyimpan makanan serta kompor gas dan microwave.  Di ruang bawah tanah ada seterika. Ruang  makan yang besar dan indah dengan jendela-jendela yang lebar dan tinggi terletak di lantai bawah. Mahasiswa dan tamunya tidak usah
bayar untuk makan. Makananan dan minumanyapun bermacam-macam dan berimpah-limpah. Fruit juice, teh, susu, kopi, coklat, es krim, keju dan buah-buahan selalu ada 3 x sehari. Fruit juicenyapun tidak tanggung-tanggung. Macam-macam, dan ada yang bisa kamu peres sendiri pakai mesin. Untuk satu gelas orange juice kamu bisa menghabiskan 3 atau 4 buah jeruk - tidak apa-apa. Untuk sarapan tersedia macam-macam
serial dan macam-macam roti, telur rebus, telur goreng, dsb. Siang dan malam selalu ada salad dengan macam-macam saus. Kemudian makanan-makanan lain yang semuanya selalu disediakan buffet style.

Wellesley College mempunyai student body yang kuat, yang aktif dan ikut menjaga kredibilitas mereka. Kalau ada mahasiswa yang nyontek dan ketahuan, mahasiswa
yang bersangkutan dibawa ke "pengadilan" yang beranggotakan dean, beberapa faculty (proffessors) dan mahasiswa-mahasiswa. Hukumannya bisa berupa hukuman percobaan atau dinyatakan gagal dalam ujian. Makanya jangan coba-coba nyontek. Saya terkesan oleh selebaran-selebaran mereka yang unuversal. Misalnya mereka meminta kepada para senior yang akan diwisuda untuk berjanji supaya pada waktu bekerja nanti tetap menjaga etika, lingkungan hidup, dan mengabdi pada kepentingan masyarakat. Ada lagi selebaran yang menyerukan mahasiswa untuk mengumpulkan uang guna mendirikan sebuah kelas di Afghanistan. Tujuannya adalah mengumpulkan $ 1000. Kalau setiap mahasiswa memberikan $ 1 saja, tujuan ini dengan mudah dapat tercapai.

 

Saya sangat terkesan oleh kepercayaan yang diberikan oleh temannya Annette, Yamini yang akan menjual buku GRI, yaitu buku persiapan test untuk melanjutkan study ke graduate school,  yang sangat diminati oleh banyak teman. Melalui email untuk semua senior Yamini mengumumkan penjualan buku tersebut beserta harga, dan pemberitahuan bahwa dia meninggalkan buku itu didepan kamarnya. Kalau ada yang berminat beli tidak perlu ketemu dia. Pembeli diminta menyelipkan uang di bawah pintu dan dipersilahkan mengambil buku itu.

 

Hal lain yang membuat saya sangat sangat terkesan adalah kepercayaan yang diberikan di ruang foto copy kepada para mahasiswa mereka. Saya masuk kesana menemani Annette yang perlu memfotocopy  paper terakhirnya. Saya kaget waktu masuk, di atas counter ada doos terbuka berisi uang entah berapa.  Saya lebih kaget lagi ketika foto copynya Annette selesai dan Annette akan membayar, petugasnya sibuk dibelakang. Dia memberitahu Annette berapa yang harus dibayar. Banyak juga wong $ 30 je. Dia bilang sama Annette, “just put the money in the box”. Annette bilang, “uangnya $ 50 bill”. Dia jawab :” kembaliannya ambil saja sendiri” – dan itulah yang dilakukan Annette, tanpa kurang ataupun lebih. Gila!!!!  Bayangin aja!!! Kok begitu percayanya sama Annette. Tentunya karena pengalaman yang begitu baik dengan mahasiswa-mahasiswa mereka. 

Saya hanya berpikir dan ingin bertanya pada kamu semua, apakah hal seperti itu kira-kira bisa diterapkan di kampus kamu? di asrama kamu? Ketika saya ceriterakan hal ini pada seorang alumni, dia bilang bahwa kalau di Indonesia begitu caranya, tempat-tempat foto copy  di Indonesia sudah bangkrut dari duluan. Alangkah menyedihkan. Di Wellesley juga ada peer support group yang terdiri dari anggota-anggota yang peduli dan selalu available untuk memberikan bantuan berupa moral support, nasehat, counseling yang dijaga ketat kerahasiannya - dalam hubungannya
dengan masalah apa saja, termasuk cinta, dosen, cross cultural issues, health, adjustment, dll. Kalau belum ada di kampus kamu, kenapa tidak mau mulai saja dari sekarang?

 

Kembali ke honor code, bangsa kita jatuh di mata bangsa-bangsa lain karena banyak diantara kita yang tidak memegang teguh honor code yang mengutamakan kejujuran. Meraja- lelanya  KKN sampai sulit membuat bangsa lain untuk mempercayai kita. Saking sulitnya saya sebagai wakil dari ICAC merasa mendapat kehormatan karena dipercayai oleh sekian banyak sponsor – yang mestinya hal itu merupakan sesuatu yang biasa.  Tugas kamu semualah untuk merubah citra yang rusak ini. Mulailah dengan diri kamu sendiri dan lingkungan kamu yang terdekat.

 

 

IBU MERTUA  -  Puncak, 11 Agustus 2002 

Dengan segala hormat dan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya pada ibu mertua saya, saya ingin berbagi cerita tentang beliau yang telah berusia 90 tahun. Perkenalan saya pertama kali berlangsung kira-kira bulan Oktober 1973 setelah Mr. Lienau menyatakan akan menikahi saya yang saya sambut dengan lonjakan di dalam hati -  melalui surat saya yang tadinya mau saya tulis, “sincerely yours”, tapi diganti oleh Mr. Lienau dengan “with love”. Waktu itu orang tua saya tidak tahu kalau saya diam-diam pacaran, apalagi sama bule. Bisa-bisa saya dipingit di rumah nggak boleh keluar kemanapun. Yang ayah saya ketahui adalah bahwa saya sangat rajin ke perpustakaan museum setiap hari, termasuk hari Minggu untuk research Penulisan skripsi saya. Memang bener sih, saya ke museum tiap hari. Yang tidak diketahui oleh orang tua saya adalah bahwa Mr. Lienau juga datang ke museum untuk research tiap hari, dan pada hari Minggu kami sering nonton film siang hari. Dari hasil kucing-kucingan itu kamu lihat sendiri hasilnya. 29 tahun kemudian, kami berdua sama-sama gemuk dengan rambut beruban dan kulit kering keriput, berbahagia dengan kehadiran Odette, Annette dan Denette yang sekarang sudah jadi mahasiswa semua.

Kembali ke ibu mertua, saya bertemu beliau untuk pertama kali di Jakarta, setahun setelah kami menikah. Yang kedua kali di Amerika waktu kami tinggal satu kota selama setahun. Saya merasa kaget, karena berbeda dari yang saya perkirakan, ternyata ibu mertua saya itu, walaupun orang Amerika, tetapi seperti ibu-ibu mertua Indonesia pada umumnya, terutama dalam hubungannya dengan menantu perempuan. Beliau mencoba mengatur kehidupan kami - terutama saya dalam menjalankan urusan rumah tangga, termasuk dalam cara mendidik anak. Saya sadar maksud beliau sangat baik, karena kecintaan beliau pada kami, terutama pada putranya serta pada cucu-cucunya. Yang mungkin tidak beliau sadari adalah bahwa jaman sudah berbeda, dan kami mempunyai cara yang berbeda dalam membesarkan anak. Karena didikan tradisionil Jawa yang mengajarkan supaya kita memperlakukan ibu mertua seperti ratu, mula-mula saya merasa tertekan. Instruksi beliau selalu saya jawab dengan “yes, mom”. Dengan demikianlah makin banyaklah perintah  untuk saya dan saya makin tertekan. Untung sekali kakak-kakak ipar saya terutama yang perempuan memahami hal ini. Mereka menunjukkan kasih sayang dan sympathy pada saya. Kakak ipar saya yang tertua mengatakan, “Sri, ibu itu memang suka ngatur-ngatur, tapi kamu nggak harus mengikuti kemauannya. Biar saja masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Katakan saja “ya” dengan tersenyum atas apa yang beliau maui, tapi tidak usah kamu kerjakan. Beliau juga ingin membantu. Nikmati saja bantuannya. Kalau beliau mau cuci piring, biar saja, don’t feel bad”. Dengan nasehat itu saya merasa mendapat kekuatan dan itulah yang saya lakukan. Saya menikmati bantuannya sehingga waktu dulu beliau mau datang ke Jakarta saya sediakan sekeranjang baju-baju yang jahitan atau kancingnya lepas untuk dibetulkan. Lama-lama beliau sadar bahwa perintah beliau tidak saya laksanakan dan beliau berhenti memberi perintah pada saya. Hubungan dengan ibu mertua sekarang baik sekali. Mau dicontoh, hai para menantu muda dan para calon menantu? Silahkan and good luck.


 
Jakarta, 11 Januari 2003   Jakarta, 11 Januari 2003

KESOMBONGAN

 

Jakarta, 11 Oktober 2001.


"Kenapa sih kok mesti sombong??" 

 "Kan katanya biar miskin asal
sombong!!!! "

Saya mau cerita lagi ya????  Boleh kan? When I was young and  beautiful, hhmm. hhhmmm..    saya dulu juga mahasiswa seperti kamu.   Di kampus saya pada waktu itu ada kecenderungan untuk melihat mahasiswa-mahasiswa dari perguruan tinggi tertentu lainnya (yang jelas bukan IPB!!!)  dengan sebelah mata. Kalau ada anak yang kelihatan kampungan, terutama dalam penampilan atau cara berpikir dan bicara, ditegur temannya "lu ini kayak anak xxxx  aja!" ('xxxxx'  adalah nama perguruan tinggi yang dilihat dengan sebelah mata pada saat itu). Waktu itu saya masih mahasiswa baru, belum terbiasa berpikir  kritis. Saya juga melihat adanya mahasiswa-mahasiswa lain yang kami anggap sombong, dari fakultas-fakultas tertentu yang masuknya lebih sulit dari pada masuk ke fakultas saya yang tercinta, sementara itu banyak mahasiswa-mahasiswa di beberapa jurusan termasuk jurusan saya yang merasakan adanya kesombongan dari sejumlah mahasiswa-mahasiswa jurusan-jurusan tertentu lainnya yang kira-kira disebabkan oleh disiplin ilmu yang  mereka pelajari. Kalau sekarang saya mendengar ada mahasiswa dari suatu universitas atau fakultas atau jurusan yang merendahkan mahasiswa dari universitas atau fakultas atau jurusan lain, apapun alasannya, saya pasti sangat tidak suka.Rasanya saya malah ingin memeluk mahasiswa-mahasiswa yang direndahkan itu untuk mengobati kepedihan hatinya.
 

 Sadarkah mereka bahwa kita semua harus bekerja sama membangun negara kita yang tercinta, yang memerlukan ahli-ahli dari berbagai disiplin ilmu? OK-lah, nggak usah muluk-muluk idealis. Untuk sekedar bisa hidupun kita perlu ahli-ahli dari berbagai ilmu untuk menjalankan fungsi masyarakat supaya produksi agraria maupun pabrik lancar atau meningkat, supaya negara aman, supaya kita bisa jualan, supaya kita bisa membeli, supaya kita dan anak-anak kita bisa belajar, supaya supaya supaya ..   Kalau ada diantara kamu yang merasa lebih tinggi dari mahasiswa lain, apapun alasannya, mbok lihatlah diri kamu sendiri. OK-lah kamu boleh dan berhak bangga atas prestasi yang kamu capai. Tapi ingatlah pengorbanan dan perjuangan yang kamu lakukan untuk mencapai prestasi ini.  Saya menulis ini untuk anggota icacers. Karena itu saya tahu bahwa paling tidak kita mempunyai latar belakang yang kurang lebih sama. Mbok ya hargailah orang lain. Belajarlah dari para sponsor kamu. Untuk ukuran Indonesia mereka adalah orang-orang kaya; untuk ukuran internasional, mereka paling tidak berkecukupan. Mereka   menghargai mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi dan dinamis yang datang dari keluarga yang mengalami kesulitan finansial. Beberapa di antara kamu yang keadaannya mungkin sedikit lebih baik dari pada mahasiswa-mahasiswa lain yang keadaannya lebih sulit, mbok ya dicontoh sikap para dermawan kaya yang keadaannya jauh lebih baik dari kamu itu.  Buat mahasiswa-mahasiswa yang merasa dianggap lebih rendah oleh mahasiswa lain, pakailah slogan yang diajarkan kakak-kakak saya di UI dulu : "Biar miskin asal sombong!".
 
 Tentu saja sombong yang ini lain dari sombong yang satunya, karena yang ini tidak merendahkan orang lain.  Slogan ini dipakai untuk menegakkan harga diri kita. Saya sendiri tidak peduli pada orang yang sombong.  EGP!!!!  Buat saya apa sih yang disombongkan? Saya jadi ingatalmarhum Prof. Mr. Soenario, salah satu pendiri republik kita, mantan duta besar Inggris dan Rusia  dan mantan menteri luar negeri kita yang begitu sederhana. Saya mengenal beliau dengan sangat baik karena beliaulah yang mewakili keluarga Mr. Lienau menghadapi orang tua saya untuk melamar  saya. Karena tidak punya pembantu beliau sendirilah yang membawa baki berisi teh untuk Mr Lienau dan saya pada kunjungan saya yang pertama. Dalam kunjungan-kunjungan selanjutnya sayalah yang langsung ke dapur setiap  kali berkunjung. Saya juga ingat Dr. Lance Castle yang waktu itu menjadi dosen tamu di UI. Beliau mengundang kami makan malam. Saya terkesan oleh gelas-gelas yang dipakai. Bukan  karena mahal, tapi justru karena gelas-gelas itu bertuliskan  "kecap ABC" dan "Supermie" (waktu itu belum ada Indomie). Biasa deh, hadiah.  Baik rumah Prof. Soenario maupun Dr. Lance Castle penuh numpuk buku-buku, dan beliau-beliau sangat dihormati dan dihargai oleh orang lain. Saya jadi belajar bahwa yang terpenting adalah apa yang ada di dalam diri kita sendiri, bukan harta, kecantikan, titel, atau status sosial yang kita miliki. Juga bukan pada universitas, fakultas atau jurusan dimana kita belajar.   Mbok ya tempatkan diri kamu pada posisi orang lain yang kamu anggap lebih rendah dari pada kamu dan cobalah bayangkan bagaimana perasaannya.

Begitu lho anak-anakkkkkkk  !!!!! ***


MENIKAH ATAU TIDAK MENIKAH DEMI ORANG TUA

15 April 2003

Semua orang tua yang telah bertemu dengan saya pada waktu wisuda putra-putrinya menyampaikan terima kasih yang tak terhingga karena perasaan bahwa saya telah berbuat begitu banyak bagi keberhasilan putra-putri mereka. Saya juga menerima ucapan terima kasih yang disampaikan oleh anak-anak, baik yang masih mahasiswa maupun yang telah lulus. Saya merasa ikut bahagia dan terharu bercampur syukur atas keberhasilan anak-anak dan kebahagiaan orang tua mereka. Saya bersyukur pada Tuhan atas kemampuan yang diberikan kepada saya untuk ikut andil dalam keberhasilan dan kebahagiaan kamu dan orang tua kamu.  Tapi……  kalau orang tua kamu tahu bahwa kadang-kadang saya memberikan “restu” atau “dorongan” kepada kamu untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak atau larangan orang tua kamu seperti yang saya lakukan dulu,  masihkan orang tua kamu begitu berterima kasih pada saya?

Tulisan ini saya buat mengingat wajah-wajah risau yang saya lihat karena dalam cinta terpaksa bertentangan dengan kehendak orang tua. Bagi kamu yang menghadapi tantangan ini, saya berikan dorongan untuk dengan sangat sopan, dengan ucapan terima kasih yang tak terhingga atas kerja keras dan pengorbanan orang tua dalam mendidik dan membesarkan kamu, dan dengan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya, menolak dengan tegas kehendak orang tua, KECUALI kalau larangan orang tua didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang secara obyektif bisa diterima. Dalam hal ini kamu harus mempertimbangan penolakan orang tua kamu secara rasionil, dan yakin bahwa dia memang bukan jodoh kamu. Kelak pada saatnya, Tuhan akan mempertemukan kamu dengan dia. Tapi kalau jodoh itu belum datang-datang juga, hadapilah kehidupan dengan sabar dan berani. Jangan sekali-kali menikah demi gengsi, atau sekedar karena ingin membahagiakan orang tua, sementara sebetulnya kamu tidak merasa cocok atau malah berontak. Buat apa kamu mengikatkan diri pada kehidupan yang tidak bahagia seumur hidup? Kamu menikah untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia, bukan sebaliknya.

 Bu Sri bisa nulis begini soalnya waktu muda dulu paling sering ribut sama bapak, dan dalam perjalanan hidup yang lebih dari setengah abad ini mendapat kesempatan bertemu dengan banyak pasangan yang keadaannya sangat berlainan dengan apa yang kelihatan dari luar. Habis, buat bapak saya dulu kayaknya semua cowok nggak ada yang bener sih.

 

 

 

Untung akhirnya punya suami yang baik sekali penuh pengertian sehingga merasa bebas merdeka menuliskan pengalaman masa muda demi pendidikan untuk generasi muda di bidang cinta.

Semua orang tua di seluruh dunia menginginkan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Mereka ingin anak-anak mereka berhasil dalam hidup mereka. Tapi apakah ukuran keberhasilan itu? Sayang sekali pada umumnya keberhasilan seseorang dilihat dari harta dan kedudukan. Padahal sesusungguhnya harta, atau kedudukan, atau kecantikan hanyalah sekedar kulit. Yang terpenting adalah apa yang ada di dalam diri kita masing-masing, apa yang ada di dalam hati dan otak kita. Juga menurut pendapat saya, keberhasilan seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri, oleh sikap dan perasaan yang bersangkutan. Kalau kamu merasa bahwa kamu berhasil, kamu merasa puas karena keinginan kamu tercapai dan kamu mempunyai sikap dan pandangan yang positive terhadap diri sendiri, PD kamu besar, kamu merasa enak bergaul dengan siapapun juga, terlepas dari bagaimana pandangan orang lain terhadap kamu, siapapun dia.  Cobalah kamu lihat Ibu Theresa dan Romo Mangun yang dulu tinggal bersama kaum papa. Juga Prof. Mr. Sunario, salah satu pendiri republik ini yang walaupun pernah menjabat menteri luar negeri tapi tidak punya mobil sendiri. Apakah beliau-beliau tidak sukses?

Saya pernah membaca, seorang hakim yang tiap hari naik angkot dan bis ke pengadilan di Jl. Gajah Mada karena hanya itu yang secara finansiil mampu dilakukan. Apakah hakim ini dianggap tidak berhasil dalam kehidupan karena tidak punya mobil sendiri? Padahal mestinya dia dihormati karena berani hidup susah demi kejujuran. Mengapa orang yang kaya karena korupsi dihormati karena kekayaannya? Mengapa orang tua keberatan kalau anaknya pacaran serius sama anak jurusan sejarah (berjuta-juta maaf kepada anak-anak sejarah; jurusan ini saya sebut karena saya lulusan sejarah, habis dari pada nyebut jurusan lain) padahal sudah cinta setengah mati, sementara larangan itu hanya karena sang kekasih ambil jurusan “kering dan tidak bergengsi”? Coba kalau anaknya pacaran sama anak dari fakultas bergengsi (yang mana aja deh, sebut sendiri), orang tua tersenyum-senyum kan? Jadi pesan apakah yang kamu dapat dari orang tua yang demikian? Terus bagaimana kalau orang tua atau calon mertua ingin kamu segera menikah karena takut anaknya ditinggalkan oleh calon menantu yang sudah sangat disetujui, sementara yang bersangkutan merasa belum siap mental? Apakah keinginan-keinginan seperti itu akan kamu ikuti?

The choice is yours. I just give my advice and encouragement with love.